Fenomena Yang Akan Terjadi,  Bila Agama Diserahkan Kepada Bukan Pakarnya

Seiring perkembangan zaman, manusia mudah mengakses segala informasi yang ia butuhkan, bahkan dalam urusan Agama, seseorang mudah bertanya atau mengambil sebuah hukum yang ia hadapi tanpa mengerti alasan atau tata cara dalam menggali hukumnya sehingga berdampak pada pemahaman yang terlalu ekstrim dan kaku untuk diterapkan di masyarakat. Akhirnya terjadi gesekan di bawah tanpa adanya solusi yang memuaskan.

Fenomena seperti ini memang sudah diprediksi oleh Nabi sejak beliau masih hidup. Hal ini seperti dalam sebuah hadits yang berbunyi:

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:”إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما، اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا، فأفتوا بغير علم، فضلوا وأضلوا” متفق

Artinya:”diriwayatkan dari Abdillah bin Amr bin Ashim RA berkata:”Saya mendengar Rasulullah bersabda:”Sesungguhnya Allah akan mencabut ilmu di masyarakat, tetapi Allah mencabutnya dari  diri para ulama sampai tak ada satupun orang alim. Akhirnya manusia menjadikan seorang ulama’ dari golongan orang yang tak mengerti ilmu maka pada saat mereka bertanya kepadanya, ia memberikan jawaban atau fatwa tanpa didasari ilmu maka mereka tersesat dan saling menyesatkan. (Muttafaq Alaihi).

Dari penjelasan ini, Allah tak akan mengambil ilmu di muka bumi ini kecuali dengan mencabut tokoh-tokoh yang pakar dalam bidang itu. Hal senada seperti dalam sebuah Syair yang dikutip dalam kitab Ta’lim al-Mutaallim yang berbunyi:

فساد كبير عالم متهتك. . . وأكبر منه جاهل يتنسك
هما فتنة للعالمين عظيمة. . . لمن بهما في دينه يتمسك

Agama ini akan mengalami kehancuran yang besar sekali bila ada dua golongan ini. Pertama, Ada orang alim ulama yang tak mau mengamalkan ilmunya. Kedua, ahli ibadah yang tak mengerti ilmu. Keduanya  menjadikan agama ini bisa hancur lebur.

Dari sini, Umat Islam harus menyadari pentingnya ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang agama terutama belajar, bertanya kepada pakarnya serta mengamalkan ilmu yang ia dapatkan selagi masih banyak ulama yang mumpuni dalam bidang masing-masing serta tak pernah terkecoh dengan ulama’ yang tenar di media sosial tetapi tak bisa mempraktekkan dalam kehidupan nyata.

Bagikan

Tinggalkan Balasan