Ahli Ibadah yang Tertipu menurut Imam Al-Ghazali

Salah satu tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini adalah untuk beribadah kepada Allah. Menurut Ibnu Abbas kata “ibadah” didalam Al-Qur’an berarti mengesakan-Nya (tauhid).

Imam Al-Ghazali dalam kitab Asnaf al-Magrurin memaparkan kategori orang-orang ahli ibadah yang tertipu, diantaranya:

Pertama, Orang yang meremehkan kewajiban (Fardhu), ia lebih mementingkan ibadah yang sunnah, misalnya orang yang mementingkan untuk mengejar Shalat tahajud, kemudian tidurnya kebablasan sampai siang, akhiranya Shalat Shubuhnya ditinggalkan.

Kedua, Orang yang memiliki rasa was-was dalam dirinya, ia selalu ragu dalam perbuatannya. Untuk niat shalat membutuhkan waktu yang lama bahkan menghabiskan waktu sehingga tertinggal jama’ah shalatnya.

Ketiga, Orang yang was-was dalam mengucapkan huruf dalam surat Al-fatihah sehingga sampai lupa merenungi, memahami isinya.

Keempat, orang yang membaca Al-Qur’an sampai hatam berkali- kali, namun hatinya selalu memikirkan urusan keduniaan, ia masih melakukan larangan dalam al-Qur’an.

Kelima, Orang yang selalu berpuasa, bahkan puasa tahunan tetapi mereka tak menjaga lisannya dari berbuat ghibah (membicarakan kejelekan orang).

Keenam, Orang yang melakukan amar makruf dan mencegah yang mungkar kepada orang lain, tapi ia tak melakukan bahkan lupa kepada dirinya sendiri.

Ketujuh, orang yang bangga tinggal di Mekkah atau Madinah atau pernah kesana tetapi ia tak menjaga Hak-hak yang berkaitan dengan Allah baik shalat dan lain, serta hak-hak kepada Nabi dengan memperbanyak membaca Shalawat dan mengikuti Sunnahnya.

Kedelapan, orang yang merasa Zuhud (tak gila dunia), sederhana dalam berpakaian atau dalam urusan makanan tapi dalam hatinya gila kedudukan atau jabatan, atau gila pujian.

Kesembilan, Orang yang selalu mengerjakan ibadah Sunnah, misalnya Shalat Dhuha, tahajud, serta ia merasakan nikmat tersendiri. Sedangkan Shalat Fardhu ia tak merasakan bahkan tak mendapatkan nikmatnya ibadah fardhu.

Itulah kategori Ahli ibadah yang tertipu, merasa amalnya baik tapi hakikatnya sangat kurang karena tak mampu membedakan yang wajib dan Sunnah, serta tak mampu membedakan bisikan nafsu maupun bisikan yang didasari ilmu. Semoga kita semua bertambah ilmu, serta selalu dituntun oleh Allah ke jalan yang diridhai-Nya.

Bagikan

Tinggalkan Balasan