Seorang Mualaf memiliki Orang tua yang Keislamannya masih diragukan, Bolehkah Mendoakannya supaya diampuni dosanya?

Islam menganjurkan kepada umatnya agar berbakti kepada orangtuanya yang telah melahirkan, merawatnya serta membiayai semua kebutuhan jasmani dan ruhaninya bahkan seorang anak dikatakan baik dihadapan Allah bila ia telah bersyukur kepada orangtuanya dengan sikap bakti kepada mereka.

Bila mereka sudah meninggal dunia maka dianjurkan untuk menziarahi kuburnya dan mendoakan agar dosa mereka diampuni serta agar mendapatkan rahmat dari Allah. Salah satu bentuk bakti seorang anak adalah mendoakan keduanya.

Baca juga:http://masholeh.com/amalan-amalan-yang-bermanfaat-setelah-kematian/

Seorang Mualaf (orang yang baru masuk Islam) jika ia memiliki kedua orangtua yang masih diragukan keislamannya, apakah diperbolehkan mendoakan keduanya supaya diampuni dosanya?

Dalam hal ini, Imam Ramli dalam Fatawanya menjelaskan bahwa,

إن غلب على الظن إسلامهما جاز الدعاء لهما بالمغفرة والرحمة ونحوهما وإلا فلا يجوز ذلك لكن يستحب أن يدعو بالمغفرة والرحمة لكل من أسلم من والديه على سبيل الإيهام فيدخل أبواه في ذلك إن كانا أسلما.

Jika keduanya diperkirakan sudah masuk Islam maka diperbolehkan mendoakan keduanya supaya diampuni dosanya serta mendapatkan rahmat Allah. Jika belum ada tanda keislaman mereka maka tidak diperbolehkan, akan tetapi dianjurkan mendoakan bagi setiap orang yang sudah masuk Islam terutama kedua orangtuanya walau dengan petunjuk yang menyatakan bahwa mereka sudah Islam.

Baca juga:http://masholeh.com/tafsir-surat-fussilat30-tentanh-kategori-berita-gembira-menjelang-kematian/

Dan bila orangtuanya sudah dinyatakan belum masuk Islam maka ada larangan untuk mendoakannya. Hal ini sesuai ayat yang berbunyi,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (113

Artinya:”Tak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (QS. At-Taubah:113)

Baca juga:http://masholeh.com/hikmah-menyegerakan-mengurus-jenazah/

Imam Ar-Razi dalam Tafsirnya yang berjudul Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa ayat ini berisi tentang larangan mendoakan kepada orang yang telah meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada Allah.

Dari sini dapat dipahami bahwa bila orang tua ada dalam diri mereka tanda ataupun isyarat akan keislamannya maka seorang anak diperbolehkan mendoakan keduanya agar diampuni dosanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *