Kitab Waraqat bag. 4 tentang Pembagian Kalam dalam Ilmu Usul Fikih

4 Hikmah Membaca Manaqib yang Perlu Dipahami

Manakib merupakan jama’ (plural) dari kata manqabah yang berarti  prilaku baik seseorang. Hal ini seperti penjelasan Syeh Yaqut Hamawi  dalam kitab Mu’jam Al Udaba’ yang berbunyi

ما عُرف به الإنسان من الخصال الحميدة والأخلاق الجميلة

Manakib yaitu sifat terpuji seorang manusia maupun akhlak yang baik.

Dari sini, membaca manakib berarti membaca sejarah hidup seseorang yang dikenal kebaikannya dan budi pekerti yang bisa dijadikan suri tauladan bagi generasi setelahnya.

Pada hakikatnya manusia seperti cermin bagi orang lain. Ia mampu menginspirasi orang lain dalam menghadapi berbagai macam lika liku kehidupan. Seseorang akan menjadi lebih baik saat dirinya mau belajar dari pengalaman orang lain terutama orang-orang baik yang dikenal dalam sejarah umat manusia.

Dalam kitab Jawahirul Maani karya  KH. Jauhari Umar dijelaskan bahwa ada 4 manfaat bagi orang yang suka membaca biografi, manakib seseorang yang dicintai oleh Allah seperti para Nabi, Rasul, Sahabat, maupun para wali (kekasih Allah). 

Baca juga:

Pertama, akan dibukakan pintu langit.

Saat pintu langit terbuka maka doa yang dipanjatkan seorang hamba akan dikabulkan oleh Allah. Alasannya adalah dengan menyebut perjalanan hidup atau biografi orang-orang shaleh yang dicintai oleh Allah maka hal ini sebagai sarana untuk lebih dicintai-Nya. Kecintaan seseorang terhadap kekasih Allah akan mendatangkan mahabbah(cinta) dari-Nya.

Kedua, Rahmat Allah akan diturunkan.

Salah satu cara agar selalu mendapatkan kasih sayang atau Rahmat Allah adalah dengan membaca manakib atau biografi orang-orang shaleh. Dengan cara ini seseorang akan belajar dan mengambil pelajaran dari pengalaman hidup seseorang yang baik terutama semasa hidup dan bergaul dengan masyarakat sekitarnya.

Ketiga. akan mendapatkan keberkahan.

Keberkahan adalah bertambahnya kebaikan seseorang disebabkan dirinya mau belajar dari orang lain. Bahkan tanda orang yang cinta kepada Allah adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad.

Imam Ar-Razi dalam Tafsirnya Mafatih al-Ghaib mengkisahkan bahwa sahabat Anas pernah menerima wasiat dari Nabi tentang tiga hal yang bermanfaat di dunia dan akhirat.

Pertama, bila engkau bertemu sesama muslim maka berilah salam kepadanya karena hal ini akan menambah berkah hidupmu.

Kedua, bila engkau memasuki rumah maka berilah salam kepada penghuni rumahmu maka akan banyak kebaikan dirumahmu.

Ketiga, Lakukanlah Shalat Dhuha karena ini termasuk perbuatan orang yang selalu bertaubat kepada Allah serta orang yang sering mengerjakan shalat ini akan tercatat sebagai orang yang baik di sisi Allah.

Keempat, akan selalu mendapatkan bimbingan dari Allah.

Salah satu cara agar seseorang mendapatkan hidayah adalah dengan selalu berusaha mensucikan hati, nafsu dari segala hal yang terlarang dengan mengisi kebaikan sehingga sesuai dengan perintah-Nya. Tak ada perbedaan kaya atau miskin, pintar atau tidak tetapi siapapun yang ada kemauan untuk menjadi baik niscaya Allah akan memberikan hidayah-Nya. Hal ini sesuai ayat yang berbunyi,


وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (69

Artinya:”Dan orang-orang yang berusaha untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,”(QS. Al-Ankabut: 69).

Imam Ar-Razi menafsirkan ayat ini dengan penjelasan



من جاهد بالطاعة هداه سبل الجنة

Barangsiapa yang berusaha untuk menjalankan ketaatan maka Allah akan menunjukkan dirinya ke jalan menuju surga.

Dari penjelasan ini, membaca manakib sangat penting bagi manusia sebagai bahan evaluasi diri serta mengambil pelajaran dari orang-orang yang dikenal kebaikannya.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *