kerja berkah

4 Kriteria Pemimpin yang Baik Menurut Cucu Rasulullah Hasan bin Ali

Di dalam kitab Al Washaya wa An-Nashaih fi Syi’ri Al Arabi karya Syeh Muhammad Abdurrahim mengkisahkan tentang kedekatan Ali bin Abi Thalib yang berdiskusi dengan puteranya yang bernama Hasan bin Ali.

Suatu ketika Ali bin Abi Thalib bertanya kepada puteranya tentang karakter seorang pemimpin yang baik.

“Wahai anakku, tahukah kamu seorang yang pantas dijadikan seorang pemimpin?”

Hasan menjawab:”Ayahku tersayang, ada beberapa kriteria orang yang pantas dijadikan seorang pemimpin. Pertama, orang yang tak terlalu memperdulikan harta yang ia miliki. Kedua, orang yang tak terlalu tergila akan pengakuan dirinya. Ketiga, saat dicela, dihina ia tak terlalu menghiraukan lawan-lawannya. Keempat, orang yang selalu peduli kepada orang yang ada di sekitarnya. Itu semua kriteria seorang pemimpin yang baik wahai ayahku,”

Kisah ini mengajarkan kepada kita tentang banyak hal terutama tentang kriteria pemimpin yang baik apalagi saat diri kita menjadi tokoh masyarakat yang diberikan amanat untuk menuntun jalan supaya tak tersesat ataupun menjadi seorang pejabat yang harus mengayomi rakyat.

Pemimpin harus memiliki sikap dermawan.

Seorang pemimpin yang Bakhil, pelit alias medit akan dijauhi bawahannya. Kedermawanan seseorang tidak diukur dari segi materi, duit semata namun juga non materi seorang mau meluangkan waktu untuk bertukar pikiran, berdiskusi bahkan berdialog dengan warganya sehingga ia tahu yang dibutuhkan bawahannya.

Pemimpin yang baik selalu mengayomi bukan minta diayomi oleh masyarakat. Bila ukurannya sebatas materi saja maka keberhasilan dalam memimpinnya selalu bergantung pada materi juga.

Baca juga:

Maka dari itu seorang pemimpin harus mau merangkul ke bawah serta ke semua elemen masyarakat sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara atasan dan bawahan.

Tak Gila Pengaruh dan Pengakuan

Saat seseorang berobsesi menjadi seorang pemimpin tapi dirinya gila pengakuan maka akan segera ditinggalkan. Kenapa demikian?

Alasannya adalah saat pemimpin sudah mendapatkan pengakuan semata maka dirinya akan lupa tugas dan keajaiban yang diamanatkan kepada dirinya sehingga menjadi terbengkalai. Ia akan lebih bangga bila disebut sebagai kepala, ketua, Direktur dan lainnya.

Bersikap tenang saat mendapatkan kritikan bahkan Cemoohan

Sudah menjadi sunnatullah di alam ini bahwa setiap manusia pasti ada yang pro juga ada yang kontra terhadap sikap, ide, pemikiran yang ia keluarkan.

Pada hakikatnya, manusia tak mampu merubah semua manusia agar menjadi suka, bersimpati kepada dirinya. Adanya perbedaan ini, maka dirinya selalu menggali dan mencari solusi terhadap segala permasalahan yang selalu muncul walau kadang akhirnya berujung cacian bahkan nyawa hampir menjadi taruhannya.

Memiliki kepedulian yang tinggi

Idealnya, pemimpin yang baik lebih mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Ia berusaha mengesampingkan egoisme diri dan mengutamakan kesejahteraan bersama.

Baca juga:

Pemimpin yang baik berani mengawali, berani menyapa duluan, serta mempunyai kepekaan sosial yang tinggi karena tanpa bantuan dan dukungan sekitarnya niscaya akan segera bubar bahkan berantakan.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *