Bidadari Sawah

Konon di sebuah daerah terpencil di kaki gunung utara, ada sebuah keluarga kecil yang pencahariannya sebagai petani, setiap hari keluarga itu ke sawah untuk merawat tanaman yang mereka tanam. Keluarga itu mempunyai anak gadis yang cantik luar biasa menurut penduduk setempat, kulitnya coklat kekuningan, matanya tajam bila memandang, tapi manis bila dipandang. Gadis ini tidak pernah mengenyam pendidikan formal karena emang tidak ada sekolahan, tapi kemauan gadis ini sangat tinggi untuk belajar apapun, dan kebiasaanya sering memungut sobekan koran bekas, plastik yang ada tulisanya pasti diambil sekedar dibaca untuk menambah wawasan di masa depan. Suatu ketika ia bertemu dengan tukang penjual beli barang bekas, lalu ia ditanya: ‘lagi ngapain dik?” tanya tukang tadi.

Lalu ia menjawab:” biasa pak, saya iseng sering mungut koran pembukus gorengan atau apaun yang ada tulisanya untuk dibaca.” jawaban gadis itu dengan nada lirih.

Akhirnya tukang tadi tahu bahwa gadis itu senang membaca, maka buku maupun koran bekas yang ia dapatkan dari warga diberikan kepadanya. Gadis tadi berkata:” pak ini buat apa?” tanya gadis

Itu buat kamu dik, saya lihat kamu senang membaca.’tukang tadi menjawab.

Dari Koran maupun buku bekas itu, gadis tadi banyak belajar dari yang ia baca, terutama tentang kehidupan, dan keterampilan menulis surat, maupun opini.

Di salah satu Koran yang ia baca ada sebuah perlombaan menulis tentang keindahan daerah masing- masing. Dari sini, ia tergugah untuk menorehkan hasil tanganya untuk menjelaskan panorama kehidupan desa, dengan gunung yang menjulang tinngi dibalut kabut semakin menjadikan daerah tadi tambah eksotis, disamping pemandangan gunung, pertanian yang menghampar luas semakin menghijau, kian menyejukkan mata.

Setelah selesai semua tulisanya, lalu ia kirim ke alamat yang tertera dikoran itu, sambil berharap mudah- mudahan tulisan ini bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

Setelah beberapa minggu ada sebuah rombongan panitia diantaranya ada yang perjaka yang berharap menemukan perempuan pujaan hatinya di tempat itu. Sesampainya di sana, salah satu rombongan, si perjaka bertanya kepada gadis cantik yang hendak ke sawah untuk membatu orang tuanya: Dik, tahu alamat gadis ini, dengan alamat ini?’ Tanya sang perjaka.

Gadis tadi menjawab: iya pak, saya tahu, emangnya mau ada perlu apa?”Tanya gadis.

Perjaka tadi menjawab:’ saya mau mengantarkan hadiah pemenang penulis daerahnya masing masing, dan yang menang itu dari daerah sini.” Penjelasan perjaka.

Gadis tadi terdiam seribu bahasa, ternyata karya tulisnya menjadi pemenang dalam lomba karya tulis itu. Saking gembiranya wajah gadis tadi terlihat cerah kemerahan. Lalu perjaka tadi bertanya lag:” kamu kenapa dik?” Tanya perjaka.

Gadis itu menjawab dengan malu-malu:” orang yang anda cari itu saya.”

Perjaka tadi menyahut:” haa…kamu dik orangnya.”Perjaka tadi kaget setengah mati karena terpukau wajah cantiknya dan kesopanannya.

Akhirnya seluruh rombongan tadi menuju ke rumah gadis tadi, serta disambut dengan hangat oleh keluarga sampai pak lurah yang kebetulan tetangga rumahnya juga turut hadir. Setelah itu rombongan menyerahka hadiahnya,lalu berpamitan untuk pulang.

Ada yang mengganjal di hati perjaka, gadis tadi sungguh menawan hati, kira kira sudah punya calon apa belumnya.” Fikirannya melayang dalam lamunan.

Seminggu kemudian perjaka tadi datang kerumah gadis tadi untuk menanyakan ke orang tuanya perihal kesedian sang gadis untuk dipersunting sebagai istrinya. Ternyata pihak keluarga menerima dengan tangan terbuka serta sang gadis menerima pinangannya. Sebulan kemudian ditetapkan waktu pernikahannya, persiapan persiapan dilakukan secara matang.

Sang gadis dihias seperti bidadari turun dari kayangan, sang perjaka tampak gagah nan berwibawa. Namun tak di sangka persiapan yang matang luluh berantakan setelah ada kabar gunung di daerah itu mau meletus, akhirnya semua warga mengungsi ke tempat aman. Pernikahan akhirnya dilakukan di tengah sawah yang tidak jauh dari rumah, dengan persiapan seadanya.

Bagikan

Tinggalkan Balasan