Kitab Waraqat bag. 4 tentang Pembagian Kalam dalam Ilmu Usul Fikih

Agar Menjadi Orang yang Pintar dan Benar

Setiap manusia mempunyai kelebihan, keunggulan, serta kekurangan masing-masing, tergantung amal perbuatan yang mereka kerjakan. Manusia hanya mampu menilai seseorang dari lahirnya saja karena hal itu sebagai cermin dari dalam dirinya.

Ibnu Al-Mulaqqin dalam Tabaqat al-Aulia mengutip perkataan seorang Ulama’ yang bernama Ali bin Ali bin Sahal atau lebih dikenal dengan Abu al-Hasan al-Busanji (W. 348 H) yaitu:

اﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺛﻼﺙ ﻣﻨﺎﺯﻝ: اﻷﻭﻟﻴﺎء، ﻭﻫﻢ اﻟﺬﻳﻦ ﺑﺎﻃﻨﻬﻢ اﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﻇﺎﻫﺮﻫﻢ. ﻭاﻟﻌﻠﻤﺎء، ﻭﻫﻢ اﻟﺬﻳﻦ ﺳﺮﻫﻢ ﻭﻋﻼﻧﻴﺘﻬﻢ ﺳﻮاء. ﻭاﻟﺠﻬﺎﻝ، ﻭﻫﻢ اﻟﺬﻳﻦ ﻋﻼﻧﻴﺘﻬﻢ ﺑﺨﻼﻑ ﺃﺳﺮاﺭﻫﻢ، ﻻ ﻳﻨﺼﻔﻮﻥ ﻣﻦ ﺃﻧﻔﺴﻬﻢ، ﻭﻳﻄﻠﺒﻮﻥ اﻷﻧﺼﺎﻑ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻫﻢ

Artinya: Manusia terbagi kepada tiga tingkatan: Pertama, Para kekasih Allah( Waliyullah) yaitu orang-orang yang batin mereka lebih baik daripada lahirnya. Kedua, Para Ulama’ Yaitu mereka yang hati dan luarnya sama. Ketiga, Orang yang bodoh, yaitu mereka yang lahirnya tak mencerminkan batinnya, serta tak sadar akan dirinya, dan selalu meminta disadarkan oleh orang lain.

Dari sini dapat dipahami bahwa untuk menjadi manusia yang lurus, prilaku lahirnya sesuai dengan batinnya maka membutuhkan latihan diri dengan selalu belajar, dan beramal secara konsisten, serta tak ada motif agar dilihat oleh orang lain, karena hal itu akan menjadi penghalang bagi dirinya dikala sendirian. Dan langkah yang demikian itu agar manusia menjadi pintar dan benar.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *