Agar Menjadi Seorang Ulama’, Ini Resepnya

Ulama' merupakan pewaris para Nabi karena mereka mewarisi ilmu, cara berdakwah serta amalan yang telah diajarkan kepada mereka. Tak hanya sekedar memiliki ilmu tapi harus mampu mengamalkannya sebatas kemampuan dirinya.

Ulama’ merupakan pewaris para Nabi karena mereka mewarisi ilmu, cara berdakwah serta amalan yang telah diajarkan kepada mereka. Tak hanya sekedar memiliki ilmu tapi harus mampu mengamalkannya sebatas kemampuan dirinya.

Baca juga: http://masholeh.com/ini-empat-ciri-ulama-yang-mendalam-ilmunya/

Para ulama’ diberikan kedudukan yang mulia tidak hanya di dunia juga di akhirat. Salah satunya adalah mereka akan mampu memberikan syafaat kepada santri, murid-muridnya begitu juga para jama’ahnya. Keistimewaan ini diberikan karena mereka mampu meneruskan misi dari para Nabi juga mampu mengamalkan ajaran-ajaran mereka. Ada keterangan dalam Surat As-Sajdah: 24 yang berbunyi:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ (24)

Artinya:”Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS. As-Sajdah: 24).

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa agar menjadi ulama’ atau pemimpin dalam urusan agama maka ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, Yakin. Kedua, Sabar. Sedangkan dalam Fatawa Dar Al-ifta Al-Misriyyah dijelaskan bahwa ayat ini berkenaan dengan hidayah yang diberikan oleh Allah dengan mengutus para Nabi dan menurunkan kitab suci.

Baca juga: http://masholeh.com/tiga-tugas-pokok-ulama/

Bila seseorang ingin mendapatkan keistimewaan ini maka ia harus melakukan beberapa hal.

Pertama, Harus memiliki kesabaran yang tinggi terutama dalam mengkaji dan mengamalkan isi al-Qur’an. Dalam hal ini kesabaran terbagi menjadi tiga yaitu sabar dalam menjalankan perintah, sabar dalam menjauhi segala larangan-larangan-Nya dan sabar saat mengahadapi musibah baik kekurangan harta, kehilangan nyawa atau yang lain.

Baca juga: http://masholeh.com/izzuddin-bin-abdussalam-ulama-yang-mulai-belajar-di-usia-senja/

Kedua, Yakin akan kebenaran kitab suci yang ia pelajari sehingga ia mampu mengamalkan dan mengajarkan kepada jama’ahnya seperti yang telah dilakukan para Nabi terdahulu.

Maka dari itu, orang yang istiqamah dalam belajar memahami isi al-Qur’an dan berusaha mengamalkan isinya dengan sabar dan yakin akan kebenaran Al-Qur’an maka ia akan menjadi ulama atau tokoh masyarakat yang mampu mengayomi dan membimbing diri sendiri, keluarga dan orang lain. Tanpa kesabaran, seseorang tak akan mendapatkan segala yang diinginkan.

Leave a Reply