ilmu

Agar Puasa Diterima, Ini Syarat Wajibnya

Setiap ibadah yang akan diterima oleh Allah harus memenuhi syarat dan rukun. Bila hal-hal itu tak terpenuhi maka ibadahnya kurang sempurna dan khawatir akan sia-sia. Dari sini pentingnya ilmu sebagai imamnya amal perbuatan manusia.

Setiap orang Islam  wajib menjalankan ibadah puasa. Syarat-syarat wajib puasa ada empat hal seperti dijelaskan oleh pengarang kitab Taqrib.

Pertama, Beragama Islam. Orang non muslim tak wajib puasa ramadhan. Hal ini sesuai perintah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah:183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)

Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah:183).

Menurut Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa Ayat ini ditujukan kepada umat islam agar berpuasa ramadhan dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan. Ini bertujuan untuk menyucikan diri dari akhlak yang tercela.

Kedua, Baligh. Anak kecil yang belum baligh belum berkewajiban berpuasa, namun Orangtuanya memberikan pemahaman dan mengajarinya supaya terbiasa menjalankannya.

Ketiga,  Berakal. Orang gila atau orang yang tak berakal tak berkewajiban berpuasa karena ia tak mengerti akan kewajibannya. Hal ini sesuai Hadits Nabi

عن علي -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: “رُفِعَ الْقَلَمُ عن ثلاثة: عن النائم حتى يَسْتَيْقِظَ، وعن الصبي حتى يَحْتَلِمَ، وعن المجنون حتى يَعْقِلَ”.  رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه وأحمد.

Artinya:”Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA bahwasanya Nabi bersabda:”Catatan amal diangkat untuk tiga golongan ini. Pertama, orang yang tidur sampai ia terbangun. Kedua, anak kecil sampai  mencapai waktu baligh. Ketiga, Orang gila sampai ia tersadar kembali. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad).

Keempat, Mampu melaksanakan puasa. Dari sini ada beberapa orang yang diperbolehkan untuk tak berpuasa, diantaranya adalah orang tua yang sudah pikun, perempuan yang sedang menyusui dan sebagainya.

Dari penjelasan ini, syarat-syarat diatas harus terpenuhi agar ibadah puasanya diterima dan bermakna sehingga mampu mengarahkan diri dari segala sikap negatif yang merugikan dirinya sendiri di dunia dan akhirat.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *