Agar tak Mudah Berprasangka Buruk Kepada Orang Lain, Ini Penting Sekali Dilakukan - masholeh.com
0 views

Agar tak Mudah Berprasangka Buruk Kepada Orang Lain, Ini Penting Sekali Dilakukan

Allah memberikan nikmat kepada manusia berupa anggota badan yang lengkap dan sempurna. Diciptakannya kedua mata agar manusia mampu melihat keagungan-Nya, telinga sebagai alat pendengaran hal-hal positif, mulut sebagai alat komunikasi dan berinteraksi dengan orang lain bukan untuk mencela bahkan melaknat sesama.

jaga lisan, cara memanggil

Hadist tentang keistimewaan menahan emosi

Allah memberikan nikmat kepada manusia berupa anggota badan yang lengkap dan sempurna. Diciptakannya kedua mata agar manusia mampu melihat keagungan-Nya, telinga sebagai alat pendengaran hal-hal positif, mulut sebagai alat komunikasi dan berinteraksi dengan orang lain bukan untuk mencela bahkan melaknat sesama.

Sayangnya, manusia seringkali lupa serta tak sadar akan anugerah ini. Ia malah menggunakan nikmat tersebut sebagai alat ukur untuk menyombongkan diri dengan menganggap orang lain lebih hina, rendah daripada dirinya. Kebiasaan kurang terpuji ini sebaiknya segera dijauhi karena akan mendatangkan keburukan terhadap dirinya dan orang lain.

Abu Abdurrahman As-Sulami dalam Tabaqat as-Sufiyah mengutip perkataan Mahfudh bin Mahmud (w. 303 H) yang berbunyi,

من أبصر محاسن نفسه ابتلي بمساوئ الناس ومن رأى عيب نفسه سلم من رؤية مساوئ الناس

Barangsiapa yang mengetahui kebaikan-kebaikan yang ada pada dirinya maka ia akan diuji dengan mengetahui keburukan orang lain. Barangsiapa melihat kekurangan atau aib dirinya maka ia akan terhindar dari keburukan orang lain.

Menurut Imam Zarruq yang dikutip oleh Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadir menjelaskan bahwa prasangka yang kurang baik timbul dari hati yang buruk bukan dari Tuhannya atau dari orang sekitarnya.

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali memberikan nasehat yang inspiratif saat hati mulai berpersangka buruk kepada orang lain, hal tersebut berasal dari bisikan syaitan maka sebaiknya tak usah diikuti.

Dari sini, pentingnya mengoptimalkan peranan antara akal dan hati manusia sebagai penangkal dari bisikan maupun pengaruh buruk sekitarnya serta selalu berintrospeksi diri agar dirinya sadar akan banyak kekurangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *