Akad Nikah Sah Walau Tanpa Adanya Resepsi

Pernikahan merupakan salah satu Sunnah Nabi sebagai  pemersatu pasangan calon suami dan istri untuk memadu kasih serta dianggap sah menurut Agama dan Negara. Namun terkadang kedua calon mempelai merasa terkendala urusan biaya terutama bila dihadapkan masalah resepsi yang sangat menyita pikiran, biaya bahkan tenaga.

baca juga: doa agar mudah diberikan keturunan

Sebetulnya salah satu ciri ajaran Islam adalah untuk memudahkan bukan menyulitkan. Seringkali seorang hamba sering membuat berat dirinya sendiri dan orang lain dengan menunda-nunda pernikahan disebabkan masalah resepsi. Padahal akad nikah ketika sudah memenuhi Syarat dan rukun maka sudah sah terutama sudah tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA). Dalam Hasyiyah al-Jamal karya Syeh Sulaiman Jamal menjelaskan bahwa rukun nikah ada lima: Pertama, Mempelai laki. Kedua, Mempelai perempuan. Ketiga, Wali. Keempat, dua saksi. Kelimat, Ijab dan Qabul.

Dalam Fatawa Dar Al-Ifta’ Al-Misriyyah ada penjelasan yang berbunyi:

ﺃﻣﺎ اﻹﻋﻼﻥ ﻭاﻹﺷﻬﺎﺭ، ﺑﺤﻀﻮﺭ ﻋﺪﺩ ﻛﺒﻴﺮ ﺃﻭ ﺑﻌﻤﻞ ﻭﻟﻴﻤﺔ ﺃﻭ ﺣﻔﻞ ﺃﻭ ﺇﻋﻼﻥ ﻓﻰ ﻭﺳﺎﺋﻞ اﻹﻋﻼﻡ ﻓﺬﻟﻚ ﺳﻨﺔ، ﻟﻴﺸﻴﻊ اﻟﻌﻠﻢ ﺑﻬﺬا اﻟﺰﻭاﺝ ﺑﻴﻦ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﻨﺎﺱ، ﻭﻻ ﻳﺸﻜﻮا ﻓﻰ ﻋﻼﻗﺔ اﻟﺮﺟﻞ ﺑﺎﻟﻤﺮﺃﺓ ﻭﻻ ﺑﺎﻟﻨﺴﻞ اﻟﻤﺘﻮﻟﺪ ﻣﻨﻬﻤﺎ

Adapun mengumumkan pernikahan dengan mengundang banyak orang dengan membuat walimah atau membuat acara resepsi sebagai sarana dalam mengenalkan pernikahan hukumnya sunnah saja, ini bertujuan sebagai sarana mengenalkan pasangan baru yang baru menikah supaya tak ada keraguan lagi akan status dan keturunannya dimasyarakat.

baca juga:  larangan tergesa-gesa kecuali dalam kondisi ini

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa resepsi sebagai sarana utuk mengenalkan pasangan baru dan bukan termasuk rukun pernikahan, jadi sebaiknya hal yang sunnah jangan sampai mengalahkan yang wajib.

Seringkali orang menunda pernikahan karena mengikuti tradisi setempat harus mengadakan resepsi besar-besaran yang menghabiskan biaya yang yang tak sedikit atau karena faktor lain yang melatarbelakanginya sehingga berdampak adanya banyaknya perzinaan yang melahirkan banyak keturunan yang tak ada nasabnya.

Wallahu A’lam.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *