Akibat Jenderal Kesiangan

Dahulu kala ada sebuah kerajaan yang makmur, rakyatnya sejahtera, sampai tidak ada kelaparan maupun kekurangan yang dirasa. Nuansa daerah itu cukup segar dan menyenangkan orang yang memandangnya. Tampak rutinitas di pasar sekitar kerajaan cukup ramai dikerumuni oleh banyaknya penjual dan pembeli. Di pojok daerah kekuasanya terbentang tanah yang hijau nan subur disana. Para petani sibuk memanen hasil pertanianya setelah menunggu beberapa bulan ia menanamnya. Di pagi hari anak anak belajar dengan ceria, sambil bernyanyi :

” Kerajaanku aman sentosa, rakyat makmur dirasa”. sahut menyahut dengan temannya, sungguh sejuk mendengar keriuhan mereka.

Terbesit dalam fikiran sang raja, manakala aku mau meninggal, “apakah pantas penggantiku yang baru seumur jagung pengetahuan dan pengalamannya menggantikan posisiku?” tanya raja dalam dirinya. Sampai beberapa hari sang raja memikirkan hal ini, sampai permaisurinya bertanya:”ada apa geranganmu baginda raja?”tanya permaisuri.

Raja menjawab:” permaisuriku yang cantik, saat ini aku merasakan gundah gulana terkait masalah siapa pengganti setelah aku, padahal putera mahkota masih belum pantas memegang posisiku”. jawaban raja kepada permaisurinya.

Setelah beberapa waktu, kerajaan yang awalnya tenteram diserang oleh kerajaan luar yang canggih alat perangnya, tiba tiba dalam beberapa hari saja kerajaan itu menjadi jatuh, hancur, bencana melanda kerajaan itu, akhirnya raja pun terdesak dan meninggal di pengungsian.

Setelah mulai berkurang dari serangan kerajaan luar, putera mahkota yang masih seumur jagung dinobatkan sebagai pengganti raja, dan semua tugas mulai diembanya, ia mengumpulkan semua jenderalnya untuk mengatur strategi dari serangan musuhnya, akhirnya ditunjuk salah satu jenderal untuk memimpin peperangan.

di hari yang telah ditetapkan untuk menyerang, tiba jenderal yang ditunjuk tidak kunjung datang, sampai sampai prajurit pada bertanya,” dimana keberadaan jenderal pimpinan perang kita?

ternyata jenderal yang ditunjuk punya kebiasaan mabuk mabukan tiap malam, dia terlena akan tugas yang diembannya, akhirnya serangan musuh bertubi tubi hingga mengahancurkan barisan prajurit yang telah siap. Sungguh naas prajurit pada mati tergeletak, tanpa ditemani sang jenderal. Di saat matahari mulai tergelincir terbangunlah jenderal tadi, dan segera menyusul ke medan pertempuran, namun apa yang ia lihat?mayat bergelempangan dimana mana, ia menyesal. Di pengunjung cerita sang jenderal dipanggil ke istana, dan akan dieksekusi mati karena kelalaian dan kecerobohannya.

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan