Anak TarTar

oleh: Moh Afif Sholeh

Adanya kemajuan yang luar biasa dalam teknologi menjadikan kemunduran dalam bidang akhlak, kreatifitas sangat merosot, terutama anak sekarang dimanjakan layanan serba online, mau makan apapun tinggal pesan lewat online, tak berapa lama pesanan datang, sampai hendak jalan ke sebuah daerah, tinggal pesan saja. Ojek atau taxi segera menghampiri kita. Si Jiko dan si Joki adalah anak kembar yang keduanya memiliki karakter yang sangat berbeda, kalau si jiko orangnya pendiam, ramah sama siapapun, namun ia pemalas. Sedangkan si Joki orangnya ramai, sering bikin ulang kepada siapapun.

Ibunya menyuruh mereka untuk ke musola untuk mengikuti Shalat Isya dan terawih di sana. Ia berkata kepada anak anaknya:“ jiko, joki, ayo siap siap ke Musola untuk Shalat berjamaah.”tuturnya sambil mengambil sajadah.

Jiko: “ntar bu, lagi sibuk nonton.” jawabnya sambil memalingkan kepala.

Joki:“saya juga ntar, bu. soalnya lagi sibuk makan cemilan.”tuturnya sambil mengunyah cemilan.

Ibu:“aduh, anak anak ibu susah dinasehati ya?”sambil bertanya dalam hati.

Akhirnya sang ibu berangkat terlebih dahulu agar tidak ketinggalan shalat berjamaahnya. Setelah selesai Shalat Isya, biasanya di Musolla Darul Muklisin gang jamblang Ciputat ada yang mengisi siraman rohani, kebetulan penceramahnya memaparkan tentang realita kondisi anak zaman sekarang, kalau disuruh orang tuanya sering bilang “ntar”,apabila disuruh makan bilangnya “ntar”. Akhirnya penceramah tadi memberi julukan anak sekarang dengan sebutan “anak tartar”, sontak ibu ibu dibelakang ketawa ketiwi, karena realitanya anak anak mereka seperti yang dipaparkan penceramah. Cuma penceramah berpesan di akhir ceramahmya:” walau anak kita generasi tartar, tapi orang tuanya harus menjadi “Badui” tuturnya.

Ibu ibu spontan bilang:”ha… “Badui”apaan lagi itu ustad?”tanya dengan nada becanda.

Ustad:”BADUI” itu sebuah singkatan ibu ibu, maksudnya adalah orang tua harus B:bijak, A:amanah, caranya dengan D:dengarkan keluh kesah anakmu, agar kamu U:untung hidupnya, lalu I: insyaallah tercapai kenginannya.

Ibu ibu:”walah ustad bisa aja ni.”canda mereka.

Ustadnya cuma tersenyum, lalu sebelum menutup ceramahnya membuat pantun:

jalan jalan keciputat

pulangnya bawa ikan

bila ada kata yang kurang tepat

mohon di maafkan

pagi pagi makan mi

di lebak bulus

mohon di maklumi

karena saya bukan makhluk halus

Lalu Ustad menutup dengan Wassalamualaikum.

Bagikan

Tinggalkan Balasan