Anjuran Menghargai orang lain sesuai Kodratnya

Allah SWT memberikan anugerah kepada mahluknya berbeda beda sesuai kondisi dan porsi yang dialami oleh setiap individu. Semuanya bermuara kepada ilmuNya yang mengetahui akhir segala urusan yang dirasakan oleh manusia khususnya atau mahkluk lainnya.

Dalam Al Qur’an Surat An Nahl ayat 90 Allah memerintahkan hambaNya untuk berbuat adil, maksudnya supaya manusia menempatkan segala sesuatu sesuai pada proporsinya dan tidak memberatkan atau merugikan orang lain.

Menurut Sulthanul Ulama Izzuddin bin Abdissalam dalam Tafsirnya menafsirkan kata Al Adlu dengan cara menetapkan sesuatu berlandaskan sebuah kebenaran. Sedangkan menurut Syeh Nawawi Al Bantani menyatakan bahwa esensi dari kata Al Adlu adalah menempatkan posisi yang berlebih lebihan dan sikap acuh tak acuh.

Dari penjelasan diatas, manusia seharusnya cermat dalam bersikap, serta menghargai apapun hasil karya atau usaha orang lain.

Ajaran agama sebetulnya tidak pernah membebani hambanya, namun sebatas kemampuan yang ia lakukan. Besar maupun kecil sebuah amalan atau perbuatan selalu dihargai oleh Allah, namun manusia kurang menghargai akan sebuah pekerjaan yang dilakukannya sendiri maupun orang lain.

Ibnu Maajah meriwayatkan sebuah Hadis dari Ibnu Umar yang berisi tentang anjuran memberikan upah pekerja sebelum kering keringatnya yang berbunyi:

ﻭﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ – ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ – ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﺃﻋﻄﻮا اﻷﺟﻴﺮ ﺃﺟﺮﻩ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺠﻒ ﻋﺮﻗﻪ». ﺭﻭاﻩ اﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ

artinya: Dari Ibnu Umar berkata: Rasullah bersabda: berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.(HR.Ibnu Maajah).

Dari keterangan diatas bahwa manusia seharusnya menghargai usaha orang lain dengan memberikan hak haknya sehingga terjalin komunikasi maupun hubungan yang baik antara keduanya.

Pada hakikatnya manusia ingin selalu dihargai oleh orang lain, namun kadangkala kesombongan dan keangkuhan seseorang menjadikannya tidak jernih dalam memandang sebuah kebenaran, yang dilihat hanya dari sudut pembenaran yang sesuai dengan kondisi yang pernah ia alami. Hal senada sesuai pernyataan seorang ulama yang bernama Abu Alais Assamarqandi dalam kitab Tanbihul Gofilin menyatakan salah satu sumber kemaksiatan atau kejahatan berawal dari kesombongan.

Pada akhirnya manusia akan selalu damai kehidupannya bila selalu mengerti dan mengahargai kelebihan maupun kekurangan orang lain.

Bagikan

moh afif sholeh

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *