Tafsir Yasin Ayat 12 tentang Anjuran Memperbanyak Amal Kebaikan

Anjuran Untuk Menyiapkan Bekal Masa Depan, Intisari Tafsir Surat Al Hasyr: 18

Waktu selalu silih berganti serta selalu berubah mulai detik, menit, jam, hari, Minggu, bulan, tahun, windu, abad. Pergantian ini merupakan sunnatullah atau ketentuan Allah di alam semesta ini. untuk menghadapinya dibutuhkan bekal yang cukup. Hal ini sesuai dengan ayat yang berbunyi,

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr 18)

Imam Thabari dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada orang yang beriman dengan membenarkan adanya Allah serta selalu mengesakan-Nya dengan menjalankan kewajiban yang telah dibebankan kepada dirinya dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Ayat ini juga mengingatkan kepada umat Islam untuk mempersiapkan bekal sebanyak mungkin untuk menuju alam keabadian. Ibnu Abbas dalam Tanwir al-Miqbas menjelaskan bahwa jika amal perbuatan manusia baik maka ia akan merasakan balasan kebaikan tersebut. Sebaliknya jika ia menebar kejahatan maka ia akan mendapatkan balasannya.

Sedangkan Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’Ulumuddin menjelaskan bahwa ayat ini sebagai petunjuk untuk selalu bermuhasabah atau introspeksi diri terhadap amal perbuatan yang telah ia lakukan.

Abu Naim al-Asfihani mengutip perkataan Imam Syaqiq Al-Balkhi,



لو أن رجلا عاش مائتي سنة لا يعرف هذه الأربعة أشياء لم ينج من النار إن شاء الله أحدها معرفة الله والثاني معرفة نفسهوالثالث معرفة أمر الله ونهيه والرابع معرفة عدو الله وعدو نفسه

Seumpama seseorang hidup dua ratus tahun lamanya tetapi tak mengetahui akan empat hal ini dikhawatirkan tak akan selamat dari api neraka.
Pertama, mengenal Allah SWT atau makrifatullah. Kedua, mengenal diri sendiri. Ketiga, Mengetahui perintah dan larangan-Nya. Keempat, mengetahui musuh Allah dan musuh dirinya.

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa keempat hal ini sebagai dasar pijakan seorang mukmin agar menjadi insan yang beruntung terutama dengan dasar keimanan yang kuat sampai masuk kategori makrifat atau mengenal Allah bahwa tak ada yang memberikan manfaat atau madharat (hal yang merugikan)
kecuali atas izin dari-Nya.


Hal penopang lainya adalah manusia harus mengenal akan dirinya agar lebih tahu kelebihan dan kelemahannya sehingga mampu mendayagunakan segala fasilitas yang ada demi terwujudnya kebaikan di dunia dan akhirat.

Disamping itu, mengenal dan memahami segala perintah juga larangannya sebagai bukti  upaya langkah kongkrit dalam mempraktekkan ajarannya karena pada dasarnya orang yang cinta kepada seseorang akan melakukan sesuatu yang disukai oleh yang orang yang ia cintai.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *