Bagaimana Islam Memandang Karma?

“Karma is real, Tuhan selalu punya cara tersendiri untuk membalas perbuatan umatnya”

Tersebut merupakan caption dari salah satu public figure yang merasa pernah “disindir” oleh temannya mengenai kasusnya yang belum lama ini hangat diperbincangkan khalayak. Dengan melihat tulisan tersebut, saya pribadi khususnya atau mungkin pembaca lain juga bertanya-tanya, apakah “karma” benar-benar ada? Jika memang karma itu nyata adanya, apa sebetulnya hakikat dari sebuah “karma”?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Karma adalah hukum sebab-akibat yang merupakan suatu hukum mutlak dalam alam.

Baca juga: https://masholeh.com/anjuran-menghargai-orang-lain-sesuai-kodratnya/

Sedangkan menurut pandangan Islam, kita mengenal istilah Sunnatullah (ketentuan Allah yang ada di alam semesta).

Kedua hal tersebut memiliki kesamaan esensi.

Bila ditelusuri dari pandangan al-Qur’an secara mendalam akan ditemukan banyak ayat yang menjelaskan hal itu, misalnya dalam Surat Al-Isra’: 7

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ

Artinya: Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.

Imam At-Thabari dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa Allah mengingatkan kepada Bani Israil tentang ketetapan-Nya dalam kitab Taurat bahwa jika kalian (Bani Israil) taat kepada Allah, dan memperbaiki urusan kalian serta selalu mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangannya, maka perbuatan kalian akan bermanfaat untuk diri kalian di dunia, dan akhirat. Dan jika kalian berbuat kemaksiatan kepada Allah, dan melakukan yang menjadi larangan-Nya, maka kalian akan merasakan balasan dari perbuatan yang telah dilakukan.

Juga dalam Surat Fussilat ayat 46:

مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ (46)

Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.

Menurut Imam At-Thabari menjelaskan bahwa orang yang berbuat kebaikan di dunia, maka ia akan merasakan balasan kebaikannya, sebaliknya orang yang berbuat kejahatan, kemaksiatan maka ia akan merasakan balasan kejahatannya.

Dari penjelasan diatas bahwa segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia akan ada konsekuensi yang akan ia terima. Bila ia pernah menyakiti orang lain, maka suatu saat ia akan merasakan disakiti oleh orang lain.

Dalam kasus ini kita ambil contoh membuka aib orang lain termasuk perbuatan menyakiti orang tersebut.

Dengan adanya hukum alam atau Sunnatullah, manusia dilarang menjelek-jelekan atau membuka aib orang lain, terutama bila yang bersangkutan sudah bertaubat. Hal tersebut dapat merugikan dirinya sendiri, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita.

Bagikan

moh afif sholeh

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *