imam al-amidi

Belajar Berdoa yang Baik seperti Nabi Zakaria

Setiap Nabi dan Rasul pasti mengalami ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah terutama yang datang dari kaumnya bahkan dari keluarganya sendiri misalnya Nabi Adam diuji dengan urusan keluarga, salah puteranya yang bernama qabil membunuh saudaranya yaitu Habil. Kejadian ini sangat menjadikan Nabi Adam risau, gundah gulana. Nabi Nuh diuji dengan istri dan anaknya yang tidak mau beriman kepada Allah.

Salah satu Nabi yang diuji oleh Allah belum diberikan keturunan sampai masa-masa tua yaitu Nabi Zakaria. Ia tak berputus asa dalam berusaha dan berdoa sampai hajatnya dikabulkan oleh Allah.

Baca juga: http://masholeh.com/doa-agar-mudah-diberikan-keturunan/

Imam Ar-Razi dalam Tafsirnya yang berjudul Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa Nabi Zakaria mengajarkan kepada kita tatacara berdoa yang baik yaitu dengan melakukan langkah sebagai berikut:

Pertama, Ia berdoa secara pelan tidak mengeraskan suaranya. Ini menunjukkan bahwa dirinya sangat lemah, ia sadar bahwa tak ada kekuatan kecuali pertolongan dari Allah. Ini sesuai ayat yang berbunyi:

إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا (3

Artinya:”yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (QS. Maryam: 3).

Hal ini berbeda jika seseorang menjadi Imam maka dianjurkan mengeraskan bacaannya.

Kedua, pada awal permulaan doanya, ia mengakui segala kekurangan pada dirinya terutama keadaan fisiknya yang mulai melemah kemudian menyebut anugerah yang telah diberikan kepadanya. Ini sesuai ayat yang berbunyi:

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُن بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا (4

Artinya:”Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. (QS. Maryam: 4).

Ketiga, doanya berkaitan dengan urusan agama tidak hanya urusan dunia saja. Ini sesuai ayat yang berbunyi:

وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِن وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا (5

Artinya: Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera. (QS. Maryam: 5).

Keempat, menggunakan asma’ Allah seperti wahai Tuhanku atau Asmaul Husna (nama-nama Allah yang mulia).

Dari penjelasan ini, seseorang yang ingin doanya dikabulkan oleh Allah maka harus mengikuti aturan-aturan yang dicontohkan oleh para Nabi, Sahabat maupun para ulama sebagai pewaris para Nabi.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *