Belajar Menejemen waktu dari Imam Syafi’i

Imam Syafi’i sangat tekun membagi waktunya, ia sangat konsisten untuk mengabadikan karya pemikirannya sehingga beliau dikenal sepanjang masa. ini Menejemen waktu dari Imam Syafi’i

Imam Syafi’i dikenal sebagai salah satu ulama’ pendiri Madzhab. ia dilahirkan  Gaza, pada tahun 150 H, bersamaan pada tahun itu imam Hanafi meninggal dunia. Dan meninggal pada tahun 204 H.

Imam Syafi’i dikenal orang yang sangat disiplin dalam menggunakan waktunya tidak hanya untuk ibadah semata, tapi juga dedikasikan untuk ilmu. Imam al-Baihaqi dalam kitab Makrifat Sunan wal Atsar mengutip perkataan murid Imam Syafi’i yang bernama Imam Rabi’ bin Sulaiman berkata,

كان الشافعي جزأ الليل ثلاثة أجزاء : الأول : يكتب ، والثاني : يصلي ، والثالث : ينام

Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian. Pertama, digunakan untuk menulis. Kedua, untuk shalat. Ketiga, untuk tidur.

Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa Imam Syafi’i sangat tekun membagi waktunya, ia sangat konsisten untuk mengabadikan karya pemikirannya sehingga beliau dikenal sepanjang masa. Menulis menjadi kebiasaan beliau yang menjadi rutinitas sehari-hari, karena ulama’ terdahulu mempunyai prinsip bahwa ilmu yang telah dipelajari akan menjadi berkembang jika dikaji, dipelajari serta ditulis sehingga ilmunya akan diserap oleh orang lain dan manfaatnya akan lebih banyak.

Disamping mahir dalam ilmu, beliau juga tekun dalam beribadah terutama untuk shalat sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah karena pada prinsipnya semakin bertambah ilmu seseorang maka semakin dekat dengan Tuhannya bukan jauh dari-Nya.

Setelah Imam Syafi’i selesai menulis dan melakukan shalat, maka beliau juga meluangkan waktu untuk istirahat, memberikan hak badan setelah beraktifitas. Dari rutinitas ini beliau sangat faham dalam menerapkan suatu kewajiban, mengamalkan amalan sunnah yang menjadi prioritas maupun tidak.

Untuk menjaga hafalan al-Qur’an, setiap bulan beliau hatam Al-Qur’an sebanyak 30 kali. Sedangkan dalam bulan Ramadhan beliau sangat konsisten dalam menghatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali hataman. Ini menunjukkan bahwa beliau sangat antusias dalam menjaga hafalan, mempelajari dan mengamalkan isinya supaya menjadi kekasih Allah.

Kunci kesuksesan beliau adalah kemampuan dalam menejemen waktu dan tak meninggalkan kewajiban sekecil apapun juga tak mengeluh kepada orang lain sehingga umurnya menjadi berkah, bertambah kebaikannya, juga bertambah ilmu.

Leave a Reply