Cerpen

Bila Sekolahan Kehilangan Stempel

Ada sebuah sekolahan di pesisir pantai utara, yang salah satu siswinya yang bernama fina panggilanya, lebih lengkapnya Morfina Ganjawati, ia terkenal kenakalannya,  sering tawuran dengan sekolah lain, maupun pernah tersangkut deretan kasus yang pernah ia lakukan. Beberapa kali orang tuanya dipanggil pihak sekolahan, karena ulahnya sering kali bikin onar. Kenakalanya yang luar biasa ini menjadikannya tidak disukain oleh teman maupun gurunya. Maklum gelora muda yang menggebu gebu, seringkali ia lupa diri. Tapi dalam dirinya ada sifat baik juga. Sewaktu pulang sekolah, ia menemukan stempel sekolah yang tergeletak berserakan dengan kertas bekas di tempat sampah, ia bermaksud untuk mengamankan stempel itu, lalu ia masukkan ke kantong saku bajunya, ternyata ia kelupaan sampai beberapa hari.

Pihak sekolahan kelimpungan mencari kesana kemari, ketika mau menstempel surat keluar. Setelah beberapa hari, ia baru ingat kalau stempel sekolahan kebawa di kantong bajunya. Esok harinya ia serahkan stempel itu ke Sekolahan, tapi apa yang terjadi?ia malah diintrogasi oleh pihak sekolahan dan dituduh mencuri stempel itu.

Pihak sekolahan:”fina, tolong jelaskan kepada kami, kenapa kamu bisa membawa stempel itu?”tanya sengan nada yang keras.

Fina:”Bapak, ibu, saya mohon maaf sebelumnya, beberapa hari yang lalu, sewaktu saya pulang sekolah, saya menemukan stempel ini ditempat sampah dengan tumpukan kertas bekas, kemudian saya amankan biar tidak hilang, akhirnya saya masukkan di kantong baju saya, dan ternyata saya lupa membawanya sampai beberapa hari.” penjelasan si fina dengan serius.

Pihak sekolah:” akh..kamu banyak alasan saja, mana ada yang percaya dengan penjelasanmu itu, Sudah jelas kamu yang bawa, berarti kamu yang mengambilnya.” ketegasan pihak sekolah kepadanya.

Setelah beberapa jam, pihak sekolah membuatkan surat panggilan ke orang tuanya untuk hadir ke sekolah yang dititipkan ke dia.

Fina:”ayah, ini ada surat panggilan dari sekolahan.” tutur fina sambil mukanya ketakutan.

Ayah:”Hah, surat apalagi ni?ayah sampe bosen membacanya, kamu berulah lagi emangnya?” tanya sang ayah.

Fina:” tidak yah, begini ceritanya: beberapa hari yang lalu saya menemukan stempel sekolah di tempat sampah dengan tumpukan kertas bekas, lalu saya ambil, dan saya masukkan ke kantong baju, Ternyata saya lupa membawa kesekolahan, dan pihak sekolah bingung mencarinya. Ketika ingat akan stempel itu, pagi harinya saya serahkan ke pihak sekolahan, dan saya malah dituduh mengambilnya, sejujurnya yah…aku tidak ada niat jahat

menggunakan stempel itu, saya cuma ingin mengamankan saja. tutur fina kepada ayahnya.

Ayah:”iya sudah kalau begitu, besok ayah mau ke sekolahan.” tutur ayah.

Keesokan harinya ayah dan ibunya berangkat kesekolahan untuk memenuhi panggilan.

Security:” silakan pak masuk keruangan ini, sudah ditunggu wakil kepala sekolah dan stafnya.” tutur sang security.

orang tua fina:”terima kasih pak.” ia sambil senyum.

Pihak sekolah:” silakan duduk pak,” tutur kepala sekolah.

Orang tua:”terima kasih.” kata orang tua dengan wajah tegang.

Pihak sekolah:” bapak, ibu yang kami hormati, ada hal yang kami ingin bicarakan terkait stempel yang di ambil anak bapak, ibu. Dalam hal ini anak ibu bersalah telah mengambil stempel sekolahan, akibatnya surat keluar banyak yang belum bisa di bagikan, serta mengganggu keberlangsungan aktifitas sekolah.

Orang tua:”maaf bapak, ibu, bila saya tidak sopan bila bertanya: emang sejauh ini sudah ada investigasi apa belum, saya khawatir pihak sekolah jadi menuduh anak saya.” tegas orang tua fina.

Pihak sekokah: ” kami sudah melihat dan mencermati cerita dari anak bapak, dan dia terbukti yang membawa stempel itu, dan ini surat skorsing bermaterai yang harus ditanda tangani” ketegasan pihak sekolah.

Orang tua:” kok beda penjelasan anak saya ya? kalau pihak sekolah asal main tuduh saja, saya akan bawa ke ranah hukum saja,” tutur orang tua fina dengan nada mengancam.

Pihak sekolahan:” kami mohon maaf sebelumnya, bila anak bapak, ibu menyalahi aturan sekali lagi, resikonya akan dikembalikan ke orang tuanya, Mohon ditanda tangani pernyataan ini.” tutur kepala sekolah.

Orang Tua sebelum menandatangani:” kalau anak saya dikembalikan lagi, lalu siapa yang mengajarinya? Saya memilih sekolah disini, karena saya percaya guru gurunya mampu mendidik anak saya, apa iya dikembalikan ke perut ibunya?pendeknya, kalau anak saya mengulangi sepenuhnya saya serahkan ke pihak sekolahan” ketegasan orang tuanya sambil memerah mukanya.

Setelah itu orang tuanya berpamitan, di jalan sambil berdoa, mudah mudahan anak saya bisa berubah, serta menjadi orang yang sukses di masa depannya.

oleh: Moh Afif Sholeh

Bagikan

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *