Bila Seorang Ustadz tak Mengerti Usul Fikih Maka akan Bikin Kegaduhan Di Masyarakat

Masyarakat dengan mudah menganggap, memanggil seseorang dengan gelar “Ustadz” ditujukan kepada orang yang mampu berceramah, bisa khutbah padahal mereka belum  memiliki pemahaman dasar-dasar agama yang baik. Bisa dibayangkan bila mereka tak memahami usul fikih dan kaidahnya maka yang terjadi adalah timbulnya kegaduhan di masyarakat bahkan bisa menimbulkan gesekan sesama manusia.

Dalam pembahasan usul fikih yang paling mendasar dibahas adalah definisi tentang ilmu. Menurut Imam Juwaini dalam kitab Waraqat, kitab kecil yang berisi tentang pembahasan usul fikih secara ringkas dan mudah dipahami serta menjadi rujukan para pakar agama, disana ia menjelaskan tentang definisi ilmu yaitu,

والعلم: معرفة المعلوم على ما هو به

Ilmu yaitu Mengetahui sesuatu sesuai dengan kenyataan.

Baca juga: http://masholeh.com/ini-empat-ciri-ulama-yang-mendalam-ilmunya/

Bila seorang ustadz ditanya jama’ahnya tentang suatu hal atau mengomentari hal tetapi tak mengetahui secara pasti permasalahannya, lantas ia menjawab atau menjelaskan maka jawabannya pasti kurang mengena.

Didalam kitab Waraqat, Imam Juwaini juga dibahas tentang definisi “Jahal” atau ketidaktahuan yaitu,

والجهل تصور الشيء على خلاف ما هو به

Jahal (ketidaktahuan) adalah menjelaskan atau menggambarkan sesuatu tetapi tak sesuai dengan kebenaran atau kenyataannya.

Jahal dibagi menjadi dua. Pertama, Jahal Basith yaitu tak mengetahui sesuatu apapun. Kedua, Jahal Murakkab atau jahal kuadrat yaitu manakala seseorang tak mengetahui sesuatu tetapi ia mempunyai i’tikad yang tak sesuai (ghairu muthabiq).

Baca juga: http://masholeh.com/tiga-tugas-pokok-ulama/

Maka dari itu seorang ustadz harus memiliki pengetahuan akan usul fikih dan qawaidnya supaya lebih hati-hati dalam bersikap agar ia tak terpeleset dalam menjelaskan atau menjawab permasalahan, bila ia tak tahu permasalahan serta ikut komentar maka ia termasuk kategori Jahal kuadrat.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *