Cerpen

Buah Ketulusan

Oleh: Siti Rohimah*

Aku Sarah, seorang siswi SMA biasa saja. Kenapa biasa saja? Karena aku bukan dari golongan remaja kaya raya atau berprestasi. Aku bertahan di sekolah hanya bermodal semangat. Semangat dari orang tuaku yang hanya sebagai buruh bangunan dan tukang cuci dari rumah ke rumah. Dan juga semangat dari diriku sendiri tentunya.


Pagi ini seperti biasa, setelah sholat Shubuh aku membantu ibu di dapur menyiapkan gorengan yang akan aku bawa ke sekolah untuk ku jual. “Nduk tolong ini dibereskan ya. Ibu mau siap-siap sekarang. Bu Mega minta ibu datang pagi-pagi banget”, suara ibu sambil lalu. Dan aku hanya mengangguk ringan sambil mengikuti perintah ibu tadi.
Tidak lama kemudian, suara ibu terdengar lagi. Kali ini pamit kepadaku untuk pergi keluar rumah lebih dulu daripada aku. Lalu menuju ruang depan, tempat bapakku mengaji Alquran sebisanya. “Pak, ibu berangkat duluan ya”, terdengar samar suara ibu. Sepertinya bapakku hanya melirik lalu mengangguk sembari menyambut tangan ibu untuk memberi izin. Lalu melanjutkan bacaan Qur’an nya.
Setelah aku selesai merapikan gorengan tadi, aku bersiap untuk berangkat sekolah. “Pak, Sarah berangkat ya”, pamitku. Lagi-lagi bapak hanya mengangguk dan melanjutkan bacaannya. Dan seperti biasa, bapak yang terakhir keluar rumah akan mengunci pintunya. Memang hanya ada kami bertiga. Dulu aku punya adik, namun karena sakit dan kami tidak mampu membayar perawatan nya Allah lekas memanggilnya dan ia tidak merasa sakit lagi. Sakit dengan segala penyakit duniawi.


Yang tidak biasa dari pagi itu, aku menemukan sebuah arloji kuno yang tergeletak di bangku luar sekolah biasa aku menjajakan gorengan ku sebelum aku masuk kelas. “Punya siapa ini ya?”, Sembari ku teliti arloji itu. Tiba-tiba teman sekolah ku datang mengagetkan ku, “hoeyy… Bengong aja. Tu ada yang beli tuh”. “Oh iya ya..”. “Ngapain si bengong?”, Tanya Dea temanku. “Eehh ini…”, Belum sempat ku jawab ternyata bel berbunyi tanda masuk. “Eh ayo masuk”, ajak Dea.

Keesokan harinya, saat aku berjualan gorengan seperti pagi biasa. Aku melihat ada seorang ibu paruh baya seumuran tidak jauh dari ibuku seperti mencari sesuatu. “Maaf bu… Sedang mencari sesuatu? Bisa saya bantu?”, tawarku. “Iya neng, ini arloji ibu hilang. Ibu lupa apa jatuh atau tertinggal dimana. Kemarin sudah ibu cari di rumah tapi ga ketemu. Sekarang ibu cari disini, siapa tau ketemu”, cerita ibu. Aku teringat arloji yang kemarin kutemukan, dan saat kusodorkan arloji tersebut. Ibu itu langsung berbinar, “ya Allah Alhamdulillah… Iya neng ini benar punya ibu. Kamu temuin di sekitar sini ya? Ibu udah gatau mau nyari dimana lagi”. Dan aku melihat titik air mata disudut matanya. Aku hanya mengangguk dan berkata, “iya bu… Kalau memang ini milik ibu, silahkan bu”. Ibu itu menerima arloji tersebut dan tersenyum, “nak… Ini arloji milik suami ibu. Suami ibu sudah meninggal 3 tahun lalu. Ini barang kesayangannya. Ibu berjanji akan menjaga arloji ini. Kalau tidak ketemu ibu seperti kehilangan suami 2 kali”. Air mata itu menetes di pipi kerut ibu itu. Aku yang mendengar pun mencoba ikut merasakan apa yang dirasakan ibu itu, meski aku belum mengerti seperti apa ditinggal suami.

Lalu kami menjadi akrab, aku pun selalu memanggil ibu itu dengan panggilan Bu Lisa. Setiap hari setiap pagi ibu Lisa jogging dan melewati tempat ku berdagang. Banyak cerita yang ku dengar tentang Bu Lisa, dan banyak pula cerita yang ku ceritakan kepadanya.

Sampai tiba saat pengumuman kelulusanku dari SMA ku sekarang. Aku tak lupa mengabari ibu Lisa. “Bu, Alhamdulillah Sarah lulus SMA. Nanti Sarah tetep jualan disini kok bu, jadi kita bisa tetap bertemu”, kabarku. Ibu Lisa bertanya, “trus kamu mau jualan ini terus? Ga pengen nerusin sekolah?”. “Yaa… Kayaknya Sarah bantuin ibu sama bapak aja deh bu. Kasian bapak masih kerja buat Sarah sekolah. Sekarang waktunya Sarah gantian ngasih uang ke bapak ibu”, jawabku. Ibu Lisa hanya tersenyum dan berkata, “nanti malam main ke rumah ibu ya, ajak bapak ibu kamu”. “Memang ada apa ya Bu?”, Tanyaku. “Tidak ada apa-apa, ibu hanya ingin merayakan kecil-kecilan kelulusan kamu. Kita makan bersama. Mau kan?”. Aku hanya mengangguk lemah antara senang juga tidak enak.

Malamnya, aku dan ibu bapakku datang kerumah ibu Lisa dengan membawa biskuit seadanya yang kami beli di warung dekat rumah kami. Ibu Lisa menyambut kami dengan ramah dan hangat. “Waahh… Sarah, ibu, bapak.. silahkan masuk. Pas banget saya dan mba Nina sudah menyiapkan makanannya lho untuk kita. Yaa seadanya ya, itung-itung saya ikut senang Sarah lulus SMA”. Ibu saya menyalami Bu Lisa sambil menyerahkan tentengannya, “kami juga makasih banyak Bu sudah diundang kerumah ibu, ini ada sedikit ya Bu. Maaf kalau kurang berkenan”. “Ya Allah terima kasih ya.. harusnya gausah bawa apa-apa. Jadi merepotkan nih. Mari mari”. Kami masuk dan bercengkrama. Tiba-tiba Bu Lisa membuka percakapan yang agak serius, “jadi begini Bu… Pak.. kalau boleh, saya minta izin agar Sarah bisa meneruskan sekolahnya. Saya siap membiayai semua biaya perkuliahan nya. Saya ikut bahagia Sarah lulus dan punya cita-cita yang tinggi. Semangat belajarnya juga tinggi. Karena tidak punya siapa-siapa, jadi saya ingin mewujudkan cita-cita Sarah, semangat Sarah. Itu pun jika bapak ibu mengizinkan, karena biar bagaimanapun Sarah masih punya orang tua kandung”. Aku terdiam kaget. Terlebih ibu dan bapakku, mereka lebih kaget tapi ada senyum tipis terukir disana. “Wah kami kaget Bu mendengar ini. Kami juga malu, sebagai orang tua tidak bisa mewujudkan cita-cita anak kami. Tapi bagaimana lagi bu, memang keadaan kami seperti ini. Dan untuk masalah itu, kami mengizinkan tapi tetap keputusan di tangan Sarah. Karena dia yang akan menjalani ini semua”, timpal bapakku. Saat semua menatapku, aku hanya bingung mau jawab apa. Aku benar-benar bahagia sekali jika memang benar aku akan melanjutkan sekolah. Dan sepertinya mereka sudah menerka dari senyumku bahwa aku memang sangat ingin melanjutkan sekolahku ke jenjang yang lebih tinggi. Ini hadiah terindah untukku. Aku berjanji dalam hati akan belajar sepenuh hati agar aku dapat mengukir senyum yang lebih indah lagi di wajah mereka.

Aku selalu percaya bahwa Inna ma’al ‘usri yusro, setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Dengan syarat, lakukan segalanya dengan ikhlas maka Allah akan memudahkan jalanmu dari arah yang tidak terduga.

*Aktifis perempuan, menekuni dunia sastra.

Bagikan

Seorang yang tertarik di bidang sastra dan literasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *