shalat id, lupa takbir

Cara Mendekatkan Diri kepada Allah

Allah mencintai hamba-hamba yang taat kepada-Nya seperti para Nabi dan Rasul juga kepada kekasih-Nya atau bisa disebut wali. Kedekatan mereka ini terbangun dari sikap tunduk dan ketaatan dalam menjalankan perintah yang diberikan maupun menjauhi segala yang dilarang.

Imam Ar-Razi dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa orang yang menginginkan selalu dekat dengan Allah harus mengikuti empat hal ini.

Baca juga: http://masholeh.com/nasehat-imam-al-ghazali-agar-mendapatkan-ridha-allah/

Pertama, mengetahui arah tujuan hidupnya yaitu mengabdi dan menyerahkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak bertaubat karena dirinya akan kembali ke sisi-Nya. Hal ini sesuai ayat yang berbunyi:


وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (31

Artinya:” Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur: 32).

Menurut imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan agar seorang mukmin melaksanakan segala yang diperintahkan seperti berprilaku dengan sikap yang baik dan mulia serta meninggalkan segala akhlak yang tercela. Orang yang beruntung yaitu orang yang mau melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.

Kedua, Mengetahui jalan yang menjadi tujuan hidupnya yaitu jalan yang sesuai dengan syari’at ajaran islam.

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (10

Artinya: Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.(QS. Yusuf: 108).

Baca juga: http://masholeh.com/hak-allah-yang-wajib-ditunaikan-manusia-agar-mendapatkankan-ini/

Menurut imam Thabari ayat ini menjelaskan tentang konsep jalan menuju keberuntungan yaitu anjuran untuk selalu mengesakan Tuhan atau Tauhid serta ikhlas dalam beramal karena Allah bukan karena tujuan lain serta melakasanakan ketaatan kepada-Nya.

Ketiga, memiliki bekal yang cukup untuk mengarungi tujuan hidupnya yaitu ilmu, amal dan ketakwaan sebagai bekal keberuntungan di dunia dan akhirat.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ (197

Artinya:” Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. “.(QS. Al-Baqarah: 197).

Ketakwaan seorang merupakan kunci meraih kesuksesan serta sebaik-baiknya bekal dalam mengarungi kehidupan. Adapun mengikuti hawa nafsu merupakan kunci dari segala kehancuran.

Keempat, berusaha semaksimal mungkin dengan tenaga pikiran agar tercapai tujuan yang selalu menjadi harapannya.

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ

Artinya: Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. (QS. Al-Hajj: 78).

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal seseorang harus berusaha untuk mendapatkannya, tanpa adanya usaha, seseorang dipastikan tak akan terwujud cita-citanya. Hal ini seperti yang telah diungkapkan oleh ibnu Athaillah dalam kitab Hikamnya,

اَلرَّجَاءُ مَا قَارَنَهُ عَمَلٌ، وَ إِلَّا فَهُوَ أُمْنِيَّةٌ

Sebuah Harapan harus dibarengi dengan perbuatan,bila tidak maka hanya bualan belaka.

Dari penjelasan ini, untuk mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah maka harus melalui jalur yang sudah ditentukan yaitu dengan menjalankan ajaran agama yang akan membawa keberuntungan serta menjauhkan dari segala kerugian yang menimpa.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *