Cara Seorang Mukmin Menyikapi Kenikmatan Dunia - masholeh.com
0 views
perempuan, kisah

perempuan, kisah

Dunia ini merupakan ladang amal perbuatan anak Adam. Fase ini akan dilalui oleh manusia menuju alam setelahnya yaitu alam barzah kemudian dibangkitkan menuju alam akhirat.


Kenikmatan dunia akan terasa hambar bila tak memiliki rasa iman. Kekayaan yang melimpah seperti rumah yang megah serta memiliki mobil mewah belum tentu ia yang menikmatinya, bisa saja malah orang lain yang merasakan kenyamanannya seperti pembantu atau supir yang mengantarkannya kemana-mana.

Menurut Imam Ar-Razi dalam tafsirnya yang berjudul Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa kehidupan orang mukmin di dunia ini sebetulnya lebih nikmat, dan bermanfaat dibandingkan orang non muslim dari beberapa segi.

Baca juga: http://masholeh.com/bukti-bahwa-akhirat-lebih-baik-daripada-dunia/

Pertama, Seorang mukmin mengetahui bahwa segala rizki yang diberikan kepadanya merupakan nikmat dari Allah maka harus disyukuri bukan diingkari karena pada hakikatnya Allah tak mungkin salah dalam mengatur hambanya.

Kedua, Seorang mukmin sadar bahwa segala macam musibah maupun ujian kehidupan merupakan kehendak dari-Nya maka ia selalu ridha dan ikhlas menerimanya dengan penuh kesabaran.

Baca juga: http://masholeh.com/nasehat-nabi-sulaiman-agar-mendapatkan-kemuliaan-di-dunia/

Ketiga, Hati seorang mukmin dipenuhi dengan cahaya makrifat kepada Allah sehingga ia mampu menerima akan segala ujian hidup yang ia lalui.

Keempat, seorang mukmin akan mengetahui bahwa segala nikmat dunia hanya sementara, ia tak terlalu terlena akan gemerlapannya.

Kelima, Kenikmatan dunia cepat berubah dan berganti, maka ia tak perlu tergila-gila menyikapinya sampai menghalalkan segala cara.

Baca juga: http://masholeh.com/kunci-mulia-dunia-dan-akhirat-lakukanlah-5-hal-ini/

Dari sini, kenikmatan dunia seperti fatamorgana hanya sementara. Nikmatnya makanan akan terasa lezat hanya sebatas melewati mulut saja setelahnya akan menjadi kotoran yang menjijikkan. Begitu juga harta yang menumpuk tak menjamin seseorang bahagia, ia malah dibuat pusing dalam menjaganya dari para pencuri bahkan akan diperebutkan ahli warisnya saat ia meninggal dunia.

Maka dari itu, nikmat dunia harus dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Dzat yang Maha Kuasa sehingga dirinya akan terasa nyaman dan tenang serta diakhirat mendapatkan keberuntungan bukan kerugian yang mendalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *