Catatan di Puncak Becici

Pagi nan cerah berbalut udara yang sedikit menyayat kulit. Setelah beberapa hari di Yogyakarta, Sholihun dan teman-temannya memutuskan untuk jalan-jalan ke puncak Becici, ia bersama rombongan dari luar kota hendak menyelesaikan tugas penelitian dari sekolahnya yaitu SMA Islam Cikal Harapan BSD.

“Sholihun, yuk kita ke puncak Becici.”ajak teman dekatnya.

“oke, ide bagus itu.”jawabnya.

Akhirnya mereka berangkat menuju puncak Becici dengan menyewa mobil di tempat penyewaan mobil.

Ketika sampai tujuan, mereka menepi di warung sejenak untuk menyeruput secangkir kopi yang menambah hangatnya suasana.

Salah satu teman Sholihun bertanya kepada penjual kopi:
“Pak, Sudah berapa tahun wisata puncaki kira-kira dibuka untuk umum?
“Sudah beberapa tahun nak, bapak lupa tahunnya. Tadinya disini cuma tempat yang biasa saja, namun berkat kekompakan masyarakat dibantu beberapa pihak terkait serta publikasi yang maksimal di media sosial, akhirnya tempat ini tambah ramai.”tuturnya.

Setelah selesai minum kopi, mereka melanjutkan menuju Puncak yang dikelilingi pepohonan yang menyejukkan mata. Solihun mengingat kepada teman-temanya tentang obrolan di warung tadi sambil duduk santai.
“Bro, dari obrolan dengan penjual warung tadi, saya mendapatkan inspirasi bahwa untuk memajukan sebuah daerah harus ada kekompakan semua kalangan, dan kita harus memanfaatkan media sosial secara masif, karena itu sebagai sarana yang mudah dan jangkauannya sampai luar negeri.”jelasnya.

“Wah betul banget, aku setuju dengan pendapat itu”. Sahut temannya.

Setelah mereka menghabiskan waktu sekitar dua jam, akhirnya mereka mencatat poin penting yang telah mereka dapatkan dengan dilengkapi hasil foto yang menawan dan menyejukkan hati.
Kemudian mereka memutuskan kembali ke hotel untuk mengolah data penelitiannya.

Bagikan

Tinggalkan Balasan