durhaka kepada anak

Durhaka Kepada Anak Itu Dilarang Agama

Setiap orang mendambakan untuk memiliki istri yang baik dan anak-anak yang taat kepada orang tuanya. Namun untuk mewujudkannya dibutuhkan proses yang panjang serta kesabaran yang tinggi. Banyak orang yang tak terima bila sang anak berani menentangnya bahkan mengancam orangtuanya sendiri. Hal ini tak bisa disalahkan kepada sang anak semata, tapi perlu evaluasi yang yang mendalam, bisa juga karena orangtuanya tak memberikan hak sang anak sehingga ia berani durhaka.

Kewajiban orangtua kepada anak-anaknya diantaranya adalah memberikan nama yang baik tak asal-asalan walau enak didengar, misalnya nama panggilan kerennya Toni tetapi nama lengkapnya sangat kurang baik yaitu “Syaitoni”.

Disamping pemberian nama yang baik, Orangtuanya wajib mengenalkan dan mengajari tentang dasar ilmu agama yang baik terutama yang berkaitan dengan pengenalan kepada Allah sebagai Tuhannya, serta akan kewajiban dalam beribadah dan memiliki akhlak yang baik kepada Allah dan makhluk-Nya.

Abu al-Lais as-Samarkandi dalam Tanbih al-Ghafilin mengkisahkan tentang seorang tamu dan anaknya yang hendak menghadap kepada Umar bin Khattab tentang prilaku buruk anaknya. Umar lantas menasehati sang anak:”Hendaklah kamu takut kepada Allah dengan cara tak menyakiti orangtuamu, setiap orang tua berkewajiban seperti ini, begitu juga anak memiliki kewajiban begini dan begitu.”

Lantas sang anak bertanya kepada Umar:” Wahai Amirul Mukminin, kewajiban orangtua kepada anaknya itu apa?”

Umar berkata:” memberikan nama yang baik dan mengajarkannya tentang kitab suci Al-Qur’an.”

Kemudian sang anak menceritakan tentang kejadian Sesungguhnya bahwa Orangtuanya memberikan nama yang kurang baik serta tak pernah mengajari al-Qur’an atau tak pernah menyekolahkan mereka tentang urusan agama.

Umar kemudian berpaling menghadap orang tua sang anak dan mengatakan:”Kamu bilang anakmu telah durhaka kepadamu, padahal kamulah yang telah durhaka kepada anakmu dengan tak memberikan nama yang baik dan tak mengajarkan kepadanya tentang urusan agama.”

Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa Islam melarang umatnya agar tak durhaka kepada anak-anaknya, jangan salahkan sang anak yang durhaka, bisa saja penyebabnya dari kesalahan orang tuanya yang tak memberikan hak sang anak.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *