Empat Tipe Manusia kaitan Urusan Duniawi

Dunia memang ladang menuju Akhirat, di sana juga sebagai usaha dalam mencukupi kehidupan duniawinya, mulai urusan harta, tahta, wanita, bahkan Toyota.Hal ini, menurut Imam Nawawi dalam Kitab Riyadusholihin, mengutip salah satu Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi yang berisi tentang kategori manusia dalam menyikapi urusan keduniawian. Untuk lebih jelasnya ada 4 tipe manusia, yaitu:Pertama, manusia yang diberikan kecukupan urusan harta benda serta berilmu pengetahuan yang luas, kemudian ia menjalankan perintah untuk selalu menjadi orang yang bertakwa, dan menjalin tali silaturahmi, karena ia sadar adanya kewajiban yang harus ditunaikan baik yang menyangkut dengan urusan Allah(Hak Allah) dan manusia(Hak Adami), manusia dalam kategori ini merupakan tingkatan manusia yang mempunyai kedudukan tinggi.Kedua, Manusia yang diberikan ilmu pengetahuan, namun tak memiliki harta benda yang mencukupi hidupnya, namun dengan niat yang baik, ia berkeinginan untuk menafkahkan hartanya Seperti orang yang mampu menunaikannya, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang menyedekahkan hartanya, disebabkan niat yang baik.Ketiga, Manusia yang diberikan harta benda, namun tak memiliki ilmu, kemudian menggunakan hartanya tanpa didasari ilmu, serta ia menghalalkan segala cara, dengan tak memikirkan resiko dari apa yang ia lakukan, serta tak mau menyambung tali silaturahmi, maka kategori ini merupakan manusia yang terburuk derajatnya.Keempat, Manusia yang tak mempunyai harta benda dan ilmu pengetahuan, kemudian ia berharap dan berniat, seumpama aku diberi harta seperti seseorang, maka aku akan seperti orang itu, maka ia akan mendapatkan dosanya, dikarenakan niat yang tidak didasari oleh ilmu.Dari kesimpulan diatas, semoga kita diberi harta yang cukup, serta ilmu pengetahuan yang memadai sehingga amal perbuatan kita diterima oleh Allah, karena amal tanpa ilmu tak akan diterima, seperti dalam Nadzam Zubad yang artinya:Setiap orang yang beramal tanpa didasari oleh ilmu, maka amalanya tak diterima.Maka dari itu, perlu kiranya kita meminta kepada Allah agar mencukupi kebutuhan kita, bukan hanya mengejar supaya menjadi kaya, namun hutangnya dimana-mana.Oleh: Moh Afif Sholeh

Bagikan

Tinggalkan Balasan