Etika Hamba saat Diberikan Keistimewaan oleh Allah

Allah SWT sebagai Tuhan semesta alam memiliki  hak prerogatif untuk mewujudkan sesuatu ataupun tidak. Dia berhak menjadikan sesuatu yang Ia kehendaki ataupun menghancurkannya. Sifat ini bahwa Dia Maha sempurna dan Maha kaya atas segala-galanya.

Allah berhak memilih para kekasih-Nya mulai para Nabi dan Rasul juga para wali-Nya tak pandang bulu, dari kasta apapun, kaya atau miskin, pejabat ataupun rakyat. Hal yang mendasar yang dijadikan pijakan adalah ketakwaan seseorang bukan kekayaan ataupun ketampanan begitu juga tak melihat dari segi  kedudukan dihadapan manusia.

Abu Abdurrahman as-Sulami dalam Tabaqat As-Sufiyah mengutip perkataan Imam Abu Amr ad-Dimasyqi,

ﻛﻤﺎ ﻓﺮﺽ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ اﻷﻧﺒﻴﺎء ﺇﻇﻬﺎﺭ اﻵﻳﺎﺕ ﻭاﻟﻤﻌﺠﺰاﺕ ﻟﻴﺆﻣﻨﻮا ﺑﻬﺎ ﻛﺬﻟﻚ ﻓﺮﺽ ﻋﻠﻰ اﻷﻭﻟﻴﺎء ﻛﺘﻤﺎﻥ اﻝﻛﺮاﻣﺎﺕ ﺣﺘﻰ ﻻ ﻳﻔﺘﺘﻦ اﻟﺨﻠﻖ ﺑﻬﺎ

Allah mewajibkan kepada para Nabi untuk memperlihatkan ayat-ayat dan mukjizat-Nya supaya kaumnya menjadi beriman begitu juga seorang Waliyullah (Kekasih Allah) wajib menyembunyikan karamat (kemuliaan) supaya manusia tak terkena fitnahnya.

Penjelasan ini sebagai bukti bahwa seorang kekasih Allah tak gila pengakuan apalagi gila jabatan, nikmat yang telah diberikan kepadanya dijadikan motivasi untuk selalu bersyukur kepada-Nya sehingga nikmat yang ia terima selalu bertambah banyak. Seorang Waliyullah tak ingin membingungkan para pengikutnya dengan tak memperlihatkan kelebihan yang ada pada dirinya. Ia berusaha menyembunyikan dari khalayak masyarakat.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *