Etika Menghargai Makanan - masholeh.com
0 views
makanan, puasa

makanan, puasa

Allah telah menganugerahkan kepada makhluknya berbagai macam Rizki, salah satunya berupa makanan. Dengan makanan, manusia mampu menggerakkan badannya untuk beraktivitas, belajar, bekerja. Nikmat yang besar ini wajib disyukuri, karena hal ini merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan manusia.

Salah satu adab atau sopan santun terhadap makanan adalah tak mencelanya. Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﻗﺎﻝ: ﻣﺎ ﻋﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻗﻂ، ﺇﻥ اﺷﺘﻬﺎﻩ ﺃﻛﻠﻪ، ﻭﺇﻥ ﻛﺮﻫﻪ ﺗﺮﻛﻪ. رواه البخاري

Artinya: diriwayatkan dari Abi Hurairah, Nabi bersabda: Nabi Muhammad tak pernah mencela makanan apapun, bila berkehendak maka beliau akan memakannya, bila tak sesuai selera maka beliau tak memakannya. H.R Bukhori

Hadis ini memberi pemahaman kepada manusia agar tak mudah mencela apapun jenis makanan, tapi harus menghargai karena itu anugerah, bila tak suka dengan makanan itu, maka sebaiknya tak usah dimakan, tak lantas mencelanya. Anjuran Nabi sangat menginspirasi umatnya untuk selalu mengapresiasi berbagai bentuk apapun nikmat Allah karena hal itu akan mendatangkan keberkahan, serta keberuntungan. Jika Umat Islam mampu mensyukuri nikmat-Nya niscaya mereka tak akan kekurangan dalam urusan makanan.

Abu Al-Lais as-Samarkandi dalam kitab Tanbih al-Ghafilin memaparkan tentang penyebab hati menjadi keras, tak mudah menerima kebenaran disebabkan empat hal ini, yaitu:

ﻗﺴﻮﺓ اﻟﻘﻠﺐ ﻣﻦ أربعة أشياء: ﺃﻭﻟﻬﺎ: ﺑﻄﻦ ﻣﻤﺘﻠﺊ، ﻭاﻟﺜﺎﻧﻲ: ﺻﺤﺒﺔ ﺻﺎﺣﺐ اﻟﺴﻮء، ﻭاﻟﺜﺎﻟﺚ: ﻧﺴﻴﺎﻥ اﻟﺬﻧﻮﺏ اﻟﻤﺎﺿﻴﺔ، ﻭاﻟﺮاﺑﻊ: ﻃﻮﻝ اﻷﻣﻞ

Artinya: Hati menjadi keras disebabkan empat hal. Pertama, perut yang selalu kenyang. Kedua, berteman dengan orang yang prilakunya kurang baik. Ketiga, Lupa akan dosa yang telah berlalu. Keempat, terlalu berangan-angan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.