Fenomena Masjid di Akhir Zaman seperti Ini

Masjid sebagai tempat untuk beribadah kepada Allah baik shalat, I’tikaf, shalat jum’at dan ibadah lainnya. Beruntung orang yang selalu mengabdikan dirinya untuk meramaikan masjid karena akan mendapatkan keistimewaan diakhirat kelak yaitu akan mendapatkan naungan langsung dari Allah saat tak ada lagi naungan kecuali dari-Nya.

Pada dasarnya masjid dibangun dengan tujuan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah bukan untuk mengikuti hawa nafsu ataupun kepentingan sesaat. Terutama menjelang Pilpres, Pilkada, Pilkades, Masjid seringkali digunakan untuk mencaci maki orang yang berbeda dengan dirinya walau sesama orang islam. Hal Ini sungguh disayangkan, karena pada prinsipnya umat islam wajib menghormati orang islam lainnya, tak boleh menyakiti lewat perkataan atau perbuatan.

Fenomena saat ini banyak orang berlomba-lomba membangun masjid megah yang menghabiskan biaya banyak sekali baik secara sukarela atau pribadi, sayangnya setelah masjid sudah jadi, jamaahnya sedikit bahkan kadang kosong tanpa diisi kegiatan apapun. Ini sesuai Hadis Nabi yang berbunyi:


عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِى الْمَسَاجِدِ

Artinya: diriwayatkan dari Anas, bahwasannya Nabi Muhammad bersabda:”hari kiamat tak akan datang sampai manusia bermegah-megahan dalam membangun masjid.” (H.R Abu Dawud)


Dalam Syarah Sunan Abi Dawud, Imam Badruddin al-Aini menjelaskan bahwa hadis diatas menjelaskan bahwa salah satu tanda mendekati hari kiamat adalah ketika manusia berlomba-lomba dan berbangga akan masjidnya dengan bagus, ornamennya indah bentuknya sampai melupakan tujuan aslinya yaitu untuk ibadah shalat, membaca al-Qur’an.


Dari sini, pengurus Masjid harus mencari terobosan agar para jamaah selalu meramaikan Masjid dengan kegiatan-kegiatan yang baik, dan didukung fasilitas yang lengkap sehingga orang selalu nyaman didalamnya mulai toilet yang bersih, tersedianya air minum, perpustakaan yang bervariasi koleksi buku-bukunya. Dengan adanya kenyamanan ini diharapakan agar para jamaah selalu ingin kembali dan kembali lagi untuk meramaikannya dengan hal-hal positif.


Imam Suyuthi dalam kitab Asybah Wa Nadhair mengupas banyak hal terkait dengan Masjid, diantaranya adalah.


Pertama, larangan berdiam diri bagi orang junub maupun perempuan yang sedang haid.


Kedua, larangan membuang kotoran seperti air ludah atau membuang kutu secara hidup-hidup atau membunuhnya.


Ketiga, dimakruhkan bagi orang yang habis mengkonsumsi makanan yang berbau tak sedap.

Keempat, dianjurkan untuk menjaga kebersihan didalamnya.

Kelima, menjaga adab saat di masjid seperti mendahulukan kaki kanan saat memasukinya serta niat untuk i’tikaf saat didalamnya.

Dari penjelasan ini, masjid seharusnya dijadikan tempat ibadah yang teduh, ramah akan lingkungan bukan untuk arogansi kepentingan sehingga masyarakat menjadi terinspirasi untuk selalu berbuat kebaikan untuk sesama.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *