Hari Gini, Masih Percaya Dukun!

Ada beberapa adat kebiasaan di masyarakat bahwa menikah maupun acara lain sebaiknya di bulan-bulan tertentu, misalnya bulan Syawwal termasuk kategori untuk mengadakan pernikahan.

Cuki seorang pemuda yang sudah menjalin hubungan dengan wanita pujaannya selama 5 tahun, setelah lebaran ia bersama orang tuanya melamar kekasihnya yang bernama Setia, setelah acara lamaran, kedua keluarga masih alot untuk menentukan tanggal pernikahannya, pihak laki laki berkeinginan mengadakan pada tanggal 25 Syawal, pihak perempuan masih menunggu pamannya yang akan memutuskan hari baiknya, karena bapaknya telah meninggal dunia, maka pamannya sebagai walinya. Akhirnya tanggal pernikahan belum bisa ditetapkan karena menunggu paman si perempuan.

“Pak, mohon maaf, kami pihak perempuan belum bisa memutuskan tanggalnya, dikarenakan masih menunggu pamannya Setia.” Tutur wakil dari pihak perempuan.

“Oh begitu, kami menunggu ┬áselama seminggu keputusan tanggal yang telah ditetapkan.”tutur orang tua Cuki.

Setelah seminggu, belum juga ada kabar tentang tanggal yang akan ditentukan, ternyata pamannya sedang mendatangi seorang dukun sakti untuk menentukan hari yang baik untuk keponakannya. Ternyata diluar dugaan, dukun tadi menyarankan agar pernikahan tidak dilanjutkan, karena beda weton setelah dihitung olehnya. Lalu pamannya Setia memberi kabar ke keluarganya untuk tidak melanjutkan pernikahan karena akan terjadi hal yang dikhawatirkan. Mendengar berita ini, Setia yang sudah cinta dengan Cuki marah besar karena saran yang tidak masuk akal.

Gelisah, sedih yang dirasakan oleh Setia, kemudian ia menghubungi Cuki sebagai kekasihnya.

“Bang…bang Cuki…” Setia sambil menangis.

“Kenapa dik?”tanya Cuki.

“Rencana pernikahan Kita gagal, ternyata paman pergi ke dukun sakti, dan menyarankan untuk tidak melanjutkan pernikahan, katanya tidak cocok hubungan kita.”jelasnya sambil tersedu sedu.

Akhirnya, Setia memutuskan untuk kabur dari rumahnya, dan ingin melanjutkan pernikahannya dengan Ciko, karena keputusan pamannya tidak masuk akal, dan sudah tidak zaman lagi.

Akhirnya Setia menikah dengan Ciko di luar daerah dengan wali hakim.

Selang beberapa hari, pamannya merasa bersalah karena gara gara ulahnya mendengar ucapan sang dukun, keponakannya menjadi kabur, hal ini juga menjadi tamparan baginya.

Pamannya berharap semoga keponakannya memaafkannya.

Bagikan

moh afif sholeh

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *