wanita muslimah, tips istri

Hikmah Idul Fitri: Membentuk Manusia yang Berbudi Pekerti Baik

Menjadi manusia yang baik merupakan impian setiap orang, namun untuk mewujudkannya dibutuhkan usaha yang maksimal dan kuat akan segala godaan.
Abu Naim Al-asfihan dalam kitab Hilyat Al-Auliya pernah berkata,


ثلاث من أخلاق الأبرار: القيام بالفرائض واجتناب المحارم وترك الغفلة

Ada tiga hal termasuk akhlak orang baik. Pertama, menjalankan segala kewajiban. Kedua, menjauhi segala larangan. Ketiga, tak mudah terlena.

Orang yang menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan akan diberikan keistimewaan oleh Allah berupa kedudukan yang tinggi di akhirat serta saat di dunia akan dimudahkan urusannya dan tercukupi dalam rizkinya.
Lebih lanjut Al-asfihani menambahkan tentang orang yang mau istighfar serta tak sombong dengan keadaan serta meningkatkan kepedulian kepada sesama baik dengan materi maupun non materi maka akan mendapatkan Ridha Allah SWT karena pada dasarnya agama menjadi sumber inspirasi bagi perdamaian umat manusia.

Orang sering ribut, bertengkar gara-gara rebutan urusan harta maupun tahta. Maka beruntunglah orang yang tak terlalu tergiur akan kenikmatan sesaat, ia lebih mengedepankan kebaikan bersama daripada kepentingan pribadi maupun golongannya.

Baca juga: Amalan yang Baik Dilakukan Saat Malam Idul Fitri

Realitanya, Masyarakat belum bisa membedakan wajib dan sunnah, seringkali ibadah sunnah dikatakan wajib atau sebaliknya ibadah wajib dibilang sunnah. Belum lagi bila ada yang melakukan sunnah namun tak ditempatkan pada tempatnya sehingga mendatangkan malapetaka bagi dirinya dan orang lain, misalnya seseorang yang mementingkan shalat jama’ah di Masjid padahal orangtuanya sedang sekarat dirumah sendirian.

Dalam kasus ini, mana yang harus didahulukan? bila ia memahami sebuah hukum dengan benar maka ia akan mendahulukan yang wajib dan mengalahkan yang sunnah walaupun itu baik, jadi ia akan merawat orangtuanya karena berbakti kepada orang tua hukumnya wajib, sedangkan shalat berjamaah hukumnya hanya sunnah muakkadah, maka harus didahulukan yang wajib.

Begitu juga banyak orang yang merasa bangga mengikuti sunnah Nabi (prilaku, ucapan, ketetapan) tapi merugikan orang lain, misalnya seorang suami seharusnya bekerja untuk menafkahi keluarga, tapi ia malah menghabiskan waktu untuk berdzikir saja tanpa ada usaha sehingga keluarganya serba kekurangan bahkan selalu bergantung kepada orang lain.

Nabi pernah menegur Abdullah bin Amr bin Ash yang berpuasa tiap hari, malamnya dihabiskan untuk bertahajjud padahal ia memiliki keluarga yang harus diberikan hak-haknya.


عَن عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَلَا تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا. رَوَاهُ البُخاَريُّ

Artinya:”Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash RA berkata: Rasulullah bersabda:”Wahai Abdullah, saya mendapatkan kabar bahwa dirimu selalu puasa pada siang hari dan selalu beribadah dimalam hari,” lantas aku menjawab:” beteul wahai Nabi.” Lalu Nabi berkata:”Maka jangan kamu lakukan hal itu, berpuasa dan berbuka, beribadah dan juga tidur karena badanmu memiliki hak yang harus kamu berikan, dan mata memiliki hak yang harus kamu berikan, begitu juga istrimu memiliki hak yang harus kamu berikan.” (HR. Bukhari).

Ibnu battal dalam Syarah al-Bukhari mengutip perkataan Imam al-Mihlab yang menjelaskan bahwa anggota badan manusia ada batasnya, jika digunakan berlebihan, terlalu memberatkan diri maka ibadahnya menjadi menurun, malas-malasan.

baca juga: Nasehat Izzudin bin Abdissalam: Jangan Membuat Pernyataan yang Membingungkan

Menurut Izzudin bin Abdissalam Syariat Islam semuanya berisi tentang kebaikan (maslahat) dengan cara mencegah segala kemadharatan (hal yang merusak) atau untuk menarik kebaikan di dunia dan akhirat. Maka dari itu orang yang beribadah harus bisa mempertimbangkan baik dan buruk dalam menerapkannya karena kebaikan bila tak diletakkan pada tempatnya maka akan menjadi sia-sia.

Dari sini, momen idul Fitri seharusnya dapat dijadikan pelajaran berharga bagi setiap muslim sehingga dirinya menjadi pribadi yang baik secara lahir batin, tidak hanya baik kepada Allah tapi kepada sesama manusia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *