doa, akhirat

Hikmah Rasul dari Kalangan Manusia

Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia melalui banyak pihak mulai peran Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, sahabat, Tabi’in dan generasi setelahnya. Allah memberikan Wahyu kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril kemudian disampaikan kepada umatnya bertujuan supaya tercipta keadilan yang merata.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Allah mengutus Semua Nabi dan Rasul dari kalangan manusia bukan dari bangsa jin maupun Malaikat. Kenapa demikian?

Bukti kebijaksanaan Allah sebagai Dzat yang menciptakan segala-galanya menganugerahkan akal dan lisan kepada manusia untuk mudah berkomunikasi dengan sesama sehingga tercapai tujuan yang hendak dicapai.

Bila kita mau menelaah perihal para Nabi dan Rasul dari kalangan mereka sendiri maka kita akan mendapatkan banyak hikmah yang terkandung di dalamnya, diantaranya: 

Pertama, Allah mengutus para Nabi dan Rasul dari golongan manusia sebagai rahmat dan untuk memudahkan berkomunikasi dengan baik. Lain halnya bila Allah mengutus para rasul dari kalangan Malaikat niscaya manusia kesulitan untuk berkomunikasi dengan mereka.

Dalil-dalil tentang Rasul dari Kalangan Manusia

Al Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia memberikan solusi bahkan terobosan berbagai macam tantangan zaman. Begitu juga memberikan hikmah inspiratif bagi umat manusia.

Hikmah para rasul yang mengemban misi suci dari kalangan manusia adalah agar mudah dimengerti dan mudah dipahami sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan.

Hal ini sesuai dengan ayat yang berbunyi:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At Taubah: 128).

Imam Ar Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah mengutus para utusannya dari kalangan manusia bukan dari kalangan malaikat karena sulitnya komunikasi atau kesulitan dalam menyampaikan misinya yang diembannya.

Penjelasan diatas didukung dengan ayat lain yang berbunyi:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (QS. Al Baqarah:151).

Imam Al Fairuzzabadi dalam Tanwirul Miqbas mengutip pendapat sahabat Ibnu Abbas yang menjelaskan maksud ayat tersebut bahwa Allah mengutus para utusan-Nya dari jenis manusia Keturunan Nabi Adam untuk mudah dalam menyampaikan isi kitab Al Qur’an yang telah diwahyukan baik yang berkaitan halal dan haram serta untuk membenahi akidah dengan konsep tauhid.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)