Hikmah

Hukum tentang Pujian kepada Nabi, bolehkah?

Nabi Muhammad seorang utusan Allah yang selalu dilindungi serta selalu dituntun langkahnya, beliau tidak hanya membuat perubahan untuk masyarakat Arab saja, namun ke seluruh alam. Para Sahabat serta Pengikutnya selalu merindukan beliau, bahkan banyak yang selalu memuji kepadanya. Pertanyaannya adalah bagaimana hukumnya memuji kepada Nabi Muhammad SAW. Apakah itu dilarang oleh Agama?

Sebetulnya memuji kebaikan seseorang hukumnya boleh saja. Pada hakikatnya pujian ada 4 kategori: Pertama, pujian Allah kepada dzat-Nya sendiri قديم على قديم)), misalnya Allah memuji dirinya sendiri dengan Asma al-Husna, seperti Al-Ghafur yang berarti Allah dzat yang maha pengampun. Kedua, Allah memuji kepada Makhluknya sendiri قديم على حادث)),. Ketiga, makhluk memuji kepada Allah حادث على قديم)), seperti tertuang dalam bacaan Shalat. Keempat, Makhluk memuji kepada makhluk yang lain حادث على حادث)), seperti manusia memuji seseorang karena baik akhlaknya.

Dari penjelasan diatas menjadi jelas bahwa semua pujian hanya milik Allah. Dan bila seseorang memuji orang lain karena akhlaknya atau hal lain hukumnya boleh saja, asal tak berlebihan dalam memujinya, seperti memuji seseorang seperti Tuhan dan sikap berlebihan ini disebut guluw.

Di dalam Al-Qur’an, Allah memuji akhlak, prilaku terpuji Nabi, terutama dalam Surat  al-Qalam:2-4 yang berbunyi:

مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ (2) وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ (3) وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (4)

Artinya: Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Ayat diatas memberi gambaran kepada kita bahwa Allah sebagai Tuhan semesta alam pun memuji kepada Nabi. Apalagi kita sebagai Umatnya seharusnya berterimakasih kepada beliau atas petunjukknya, dengan mengikutinya merupakan sebagai bukti cinta kepadanya. Ekspresi Ungkapan cinta ini kadang tergambar dalam sebuah syair atau  pujian lain. Di masa Nabi masih hidup, banyak penyair yang memuji kepada beliau seperti Hassan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik. Nabi mengakui pujian mereka, bahkan tak melarangnya seperti saat Ka’ab bin Zuhair bin Abi Sulma menyenandungkan syair pujian kepada Nabi di Masjid. Ini salah satu potongan syairnya:

….إِنَّ الرَسولَ لَنورٌ يُستَضاءُ بِهِ …….

Rasulullah umpama lentera yang dibuat untuk menerangi kehidupan.

 

Hal ini seperti dalam Kasidah Burdah yang dikarang oleh Imam Busyiri, di dalamnya berisi tentang pujian kepada Nabi Muhammad.

Kesimpulannya adalah memuji Nabi karena akhlak, prilakunya tak dilarang, bahkan semakin mendekatkan dengan beliau.

 

Bagikan

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *