Hukum Menambahkan Kata "Sayyidina" Dalam Adzan dan Iqamat - masholeh.com
0 views

Hukum Menambahkan Kata “Sayyidina” Dalam Adzan dan Iqamat

Pada hakikatnya Adzan merupakan penanda masuknya waktu shalat. Lafadznya juga telah ditentukan oleh Nabi setelah mendapatkan pengajaran dari Malaikat Jibril. penambahan kata “Sayyidina” sebelum kata “Muhammadan” diperbolehkan atau tidak.

Shalat merupakan salah satu rukun islam yang waktunya telah ditentukan. Sebelum Shalat dianjurkan dikumandangkan Adzan terlebih dahulu. Pada hakikatnya Adzan merupakan penanda masuknya waktu shalat. Lafadznya juga telah ditentukan oleh Nabi setelah mendapatkan pengajaran dari Malaikat Jibril.

Timbul pertanyaan seputar penambahan kata “Sayyidina” sebelum kata “Muhammadan” diperbolehkan atau tidak.

Untuk menjawab hal ini terlebih dahulu dijelaskan hukum asal adzan ada beberapa pendapat: Pertama, Sunnah Muakkadah yaitu bila dikerjakan maka akan mendapatkan pahala, bila tak ada yang mengumandangkannya maka tak berdosa. Kedua, Fardhu Kifayah yaitu bila sebagian telah ada yang menjalankan maka yang lain gugur kewajibannya.

Setelah dipaparkan tentang hukum adzan, maka akan dijelaskan hukum penambahan kata “Sayyidana” dalam Adzan dan Iqamat.

Dalam Fatawa Dar Al-Ifta’ Al-Misriyyah dijelaskan bahwa ada dua pendapat dalam persoalan ini:

Pertama, Menurut Imam Hanafi, Imam Malik, juga Imam Ahmad bin Hambal menyatakan bahwa penambahan kata “Sayyidana” tidak dianjurkan bahkan dilarang.
Alasannya dengan tidak menambahkan kata “Sayyidana” dalam Adzan dan Shalat maka berarti telah mengikut (iIttiba) Nabi. Sedangkan menambahkan kata “Sayyidana” berarti membuat hal yang baru (Ibtida’). Padahal mengikut (iIttiba’) Nabi lebih baik daripada membuat hal baru (Ibtida’).

Kedua, Menurut pengikut Imam Syafi’i (Syafi’iyah) menyatakan bahwa menambahkan kata “Sayyidana” dalam Adzan dan Iqamat hukumnya diperbolehkan. Alasannya adalah berprilaku baik atau Ta’addub terhadap Rasulullah ketika disebutkan namanya lebih utama daripada mengikuti Sunnahnya (Imtitsal al-Amri).

Setelah jelas mengenai dua pendapat dan disertai kedua argumennya, maka hendaknya mengahargai satu dan lainnya agar tak terjadi sumber permusuhan disebabkan perbedaan pemahaman dalam hal cabang Syariah(Furu’ as-Syariat).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.