Hukum Ruqiyyah Dalam Islam

Dalam Fatawa Dar Al-Ifta’ Al-Misriyyah dijelaskan bahwa Ruqiyyah adalah Membaca beberapa kalimat untuk menolak kejahatan atau untuk melindungi diri sehingga terjauhkan dari hal yang tak disukai atau bisa untuk menyembuhkan orang yang sakit.

Sebelum Islam, Orang-orang Arab meyakini bahwa Ruqiyyah memberi pengaruh tersendiri tanpa campur tangan yang Maha Kuasa. Maka praktek ini sangat ditentang oleh Agama. Maka Misi Islam untuk membenarkan akidah yang kurang sesuai, dengan membenarkan keyakinan bahwa segala yang mampu memberikan pengaruh segalanya hanya Allah SWT.

Dari sini, Islam meluruskan tata cara Ruqiyyah yang diperbolehkan sebatas ikhtiar manusia, seperti halnya berobat ke dokter, dan dilakukan menggunakan Nama Allah maupun Sifat-sifat-Nya, ataupun menggunakan Ayat-ayat al-Qur’an.

Dalam hal ini ada beberapa Hadist yang menjelaskan tentang diperbolehkan melakukan Ruqiyyah diantaranya:

عن عائشة ﺃﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﻳﻌﻮذ ﺑﻌﺾ ﺃﻫﻠﻪ ﻳﻤﺴﺢ ﺑﻴﺪﻩ اﻟﻴﻤﻨﻰ ﻭﻳﻘﻮﻝ: “اﻟﻠﻬﻢ ﺭﺏ اﻟﻨﺎﺱ، أذهب البأس، ﻭاﺷﻒ، ﺃﻧﺖ اﻟﺸﺎﻓﻲ ﻻ ﺷﻔﺎء ﺇﻻ ﺷﻔﺎﺅﻙ، ﺷﻔﺎء ﻻ ﻳﻐﺎﺩﺭ ﺳﻘﻤﺎ” ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ

Artinya: Diriwayatkan dari Siti Aisyah, Bahwasanya Nabi meminta perlindungan kepda Allah untuk sebagian keluarganya, beliau mengusap menggunakan tangan kanannya seraya berdoa: Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah sakit, sembuhkanlah, engkau Dzat Yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan sakit.”(HR. Bukhari)

Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan bahwa Ruqiyyah yang dilarang adalah Ruqiyyah yang menggunakan kalimat dari orang Non Muslim, dan tak diketahui artinya. Adapun bila menggunakan Ayat-ayat al-Qur’an maka hukumnya diperbolehkan.

Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa:

ﻭﻗﺎﻝ اﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻓﻰ ﻓﺘﺢ اﻟﺒﺎﺭﻯ: ﺃﺟﻤﻊ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻋﻠﻰ ﺟﻮاﺯ اﻟﺮﻗﻴﺔ ﻋﻨﺪ اﺟﺘﻤﺎﻉ ثلاثة شروط: ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺑﻜﻼﻡ اﻟﻠﻪ ﺃﻭ ﺑﺄﺳﻤﺎﺋﻪ ﺃﻭ ﺻﻔﺎﺗﻪ، ﻭﺑﺎﻟﻠﺴﺎﻥ اﻟﻌﺮﺑﻰ ﺃﻭ ﺑﻤﺎ ﻳﻌﺮﻑ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻩ، ﻭﺃﻥ ﻳﻌﺘﻘﺪ ﺃﻥ اﻟﺮﻗﻴﺔ ﻻ ﺗﺆﺛﺮ ﺑﺬاﺗﻬﺎ، ﺑﻞ ﺑﺘﻘﺪﻳﺮ اﻟﻠﻪ

Artinya: Ulama’ telah bermufakat (Ijma’) tentang diperbolehkan Ruqiyyah dengan tiga syarat: Pertama, Harus menggunakan Ayat-ayat al-Qur’an atau menggunakan Nama-Nya, juga Sifat-Nya. Kedua, menggunakan bahasa Arab atau yang jelas artinya. Ketiga, Ruqiyyah tak ada pengaruh apapun, tapi semuanya atas kekuasaan-Nya.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Ruqiyyah boleh dilakukan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.

Depok, 26/12/2018, 10:57 WIB

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *