Hukum Tidur di dalam Masjid

Masjid sebagai Baitullah (rumah Allah) memiliki aturan-aturan yang harus ditaati bagi siapapun yang hendak memasukinya diantaranya harus suci dari hadas besar seperti haid, nifas dan lainnya. Hal Ini bertujuan agar tempat itu terjaga kesucian dan kebersihannya selalu terjamin.

Seringkali masjid-masjid di sekitar tempat tinggal kita banyak sekali orang yang tiduran di dalamnya bahkan sudah menjadi rutinitas sebagian orang sehingga muncul kebijakan dari pengurus untuk mengunci pintu masjid selain pada waktu shalat wajib saja. Sebetulnya hukum tidur di dalam masjid itu bagaimana?

Pada dasarnya masjid merupakan tempat untuk beribadah seperti shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an. Hal ini sesuai ayat yang berbunyi,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ (36

Artinya:”Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. (QS. An-Nur: 36).

Menurut Imam Thabari dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini sebagai dalil dianjurkan untuk membaca tasbih, membaca Al-Qur’an serta melaksanakan shalat saat berada di masjid.

Dari sini dapat dipahami bahwa masjid ditujukan untuk beribadah bukan digunakan untuk tiduran, namun Islam memperbolehkan seseorang tidur di dalamnya terutama bagi orang yang mempunyai hajat misalnya seorang musafir yang belum mendapatkan penginapan atau kurang bekalnya seperti yang dilakukan oleh Ahlus Suffah pada saat Nabi masih hidup.

Imam As-Safarini dalam Ghida’ Albab mengkisahkan tentang sahabat Ibnu Umar saat masih bujang atau belum menikah terbiasa tidur di masjid karena tak memiliki tempat tinggal. Hal ini ia lakukan sampai dirinya menikah.

Menurut Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ menjelaskan bahwa tidur di masjid hukumnya diperbolehkan. Imam Ibnu al-Musayyab, Imam Atha’, Imam Hasan, dan Imam Syafi’i membuat keringanan diperbolehkannya tidur di Masjid. Sedangkan menurut Imam Malik diperbolehkannya tidur di masjid bagi orang yang sedang mengelana atau musafir, sedangkan bagi warga setempat tak dianjurkan tidur disana.

Dari sini harus dibedakan antara orang yang mempunyai hajat ataupun tidak, juga harus dibedakan antara orang fakir ataupun tidak. Maka dari itu, pengurus masjid harus bijaksana menyikapi permasalahan seperti ini terutama bila ada jama’ah yang hendak menginap harus didata terlebih dahulu. Hal ini bertujuan sebagai antisipasi dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti adanya pencurian kotak amal atau perlengkapan masjid lainnya.

Seiring perubahan zaman, banyak masjid yang dikunci diluar waktu shalat karena banyaknya kejadian-kejadian yang tak terpuji terutama untuk menjaga kesucian masjid dari najis atau menghindari banyaknya kehilangan benda-benda yang ada didalamnya.

Bagikan

moh afif sholeh

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *