perbedaan ilmu al-qur'an dan ilmu tafsir

Ilmu Tauhid yang Terkandung dalam Al Fatihah

Al Qur’an kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai petunjuk manusia. Di dalamnya dipenuhi dengan berbagai hikmah sebagai sumber pengetahuan, baik ilmu agama terutama ilmu tauhid maupun ilmu yang lain. Semua kandunganya tertuang dalam Surat Al Fatihah (pembuka).

Hal ini sesuai pernyataan Imam As Suyuti dalam kitab Asrar Tartib Al Qur’an, beliau menyatakan bahwa Allah SWT memulai kitabnya dengan Surat Al Fatihah karena di dalamnya tertuang tujuan pokok Al Qur’an ( Maqasid Al Qur’an).

Lebih lanjut, Imam Suyuthi mengutip pendapat Imam At Toyyibi yang mengatakan bahwa di dalam Surat Al Fatihah terdapat 4 macam ilmu tentang dasar pokok Agama seperti ilmu Tauhid, Fikih, Tasawuf, Sejarah.

Ilmu tauhid yang terkandung dalam al fatihah merupakan sebagai Ilmu Usuluddin (dasar Agama). Di dalamnya memuat beberapa hal:

Baca juga:


Makrifat kepada Allah.

Keimanan merupakan dasar agama Islam terutama yang berkaitan dengan Tuhan yang menciptakan seluruh alam.

Hal ini tertuang pada ayat


(الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)

Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Ayat ini memberi gambaran bahwa hakikat segala macam pujian kebaikan hanya milik Allah semata yang terbagi menjadi 4 macam:

Pertama. Allah memuji kepada dirinya sendiri( حمد قديم لقديم). Hal ini seperti dalam Al Qur’an Surat Surat Al An’am 1 yang berbunyi:


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ۖ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang, namun demikian orang-orang kafir masih mempersekutukan Tuhan mereka dengan sesuatu.

Kedua. Allah memberi pujian kepada Makhluknya, seperti Allah memuji kepada Nabi Muhammad SAW, seperti tertuang dalam Surat Al Ahzab 21


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.

Ketiga. Makhluk memuji kepada Penciptanya (حمد حادث لقديم), misalnya manusia mendapatkan nikmat selamat dari sebuah kecelakaan, kemudian ia mengucapkan Alhamdulillah sebagai bukti kenikmatan yang telah diberikan kepadanya

Keempat. Makhluk memuji ke sesama (حمد حادث لحادث), misalnya Ali memuji kehebatan temannya atas keberhasilannya dalam urusan bisnis.

Baca juga:


Dengan demikian segala bentuk pujian kebaikan, baik yang manusia rasakan, serta semua kenikmatan, anugerah, pada hakikatnya adalah milik Allah SWT, manusia tak pantas untukmengeklaim sedikit pun.

Menjelaskan tentang Kenabian

Salah satu pembahasan keimanan yaitu tentang diutusnya para nabi dan rasul sebagai penyampai Wahyu Tuhan kepada umat manusia.

Hal ini tertuang dalam ayat


صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Artinya: (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya.

Ayat ini memberi gambaran bahwa orang yang telah diberikan nikmat, yaitu para Nabi, orang pilihanNya, serta kepada orang Shalih dan dan para Syuhada’.

Membahas urusan Akhirat

Allah menciptakan makhluknya ada permulaan juga ada akhirnya yaitu tentang hancurnya alam semesta, serta adanya pembalasan amal perbuatan yang dilakukan oleh manusia.

Hal ini tertuang dalam ayat Surat Al-Fatihah 4


مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Artinya: Pemilik hari pembalasan.

Ayat ini menjelaskan tentang adanya hari pembalasan semua amal makhluknya.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)