Ingin lebih mengenal Allah, Caranya begini

Ada sebuah pepatah “tak kenal maka tak sayang”, manusia sebagai makhluk yang diberi anugerah akal, serta ilmu pengetahuan, manusia mempunyai kedudukan yang tinggi dihadapan makhluk yang lain. Keistimewaan ini bertujuan agar manusia menggunakan sebaik-baiknya dengan memberdayakan secara maksimal apa yang menjadi kewajibannya sebagai bentuk pertanggung jawaban di hadapanNya, dengan cara lebih intens mengenalnya lebih dekat melalui tanda kebesaranya yang tersurat maupun tersirat di alam raya ini.

 

Dalam Al Qur’an surat Ar Rum ada 7 ayat yang dimulai dengan kalimat ومن أياته yang menyatakan bahwa Allah memperlihatkan kebesaranNya dalam berbagai hal:

 

Pertama, tentang penciptaan Manusia pertama yaitu Adam dari tanah. hal ini menjadi gambaran kepada kita jenis- jenis tanah yang merupakan bukti adanya keberagaman manusia jika dilihat dari corak, karakter, perbedaan jenis kulit, bahasa, maupun agama yang dianut manusia berasal dari satu sumber penciptaan, tidak lain berasal dari tanah, seperti yang di ungkapkan seorang Mufassir asal Tunisia, Ibnu Asyur dalam Tafsirnya menyatakan bahwa: asal manusia berasal dari tanah, serta agama-agama berkembangnya darinya. Semuanya menjadi pertanda bahwa Sang Khalik mampu menjadikan segala yang ia kehendaki.

 

Kedua, Allah mensyariatkan pernikahan sebagai alat keberlangsungan hidup manusia di dunia ini sebagai seorang Khalifah dimuka bumi. Dengan adanya sebuah ikatan diharapkan terciptanya suasana yang harmonis, serta terbangun hubungan yang didasari cinta dan kasih sayang, hal ini sebagai pertanda tentang keagungan Tuhan telah menciptakan pasangan sesama manusia, bukan dari jenis jin maupun bangsa halus lainya.

 

Ketiga, setelah manusia mengenal tentang penciptaan dirinya, serta tujuan hidupnya, Allah mengingatkan kita untuk berfikir tentang penciptaan langit dan bumi, sungguh manusia terasa kecil, terasa tidak berdaya di hadapanNya. Apabila manusia dibangunkan dari dalam bumi, niscaya manusia akan keluar semua tanpa ada halangan apapun.

Keempat, Allah menciptakan perbedaan bahasa, warna yang beraneka ragam, ada yang coklat, hitam, bertujuan untuk saling memahami, kenal mengenal untuk menjalin hubungan yang harmonis.

 

Kelima, adanya siang untuk mencari penghidupan, mengais rizki mencukupi kebutuhan sehari hari, ini sebagai tanda bahwa manusia tidak pantas mengataka datang rizki dari usahanya sendiri, tapi atas izin Allah menghendaki, dan memudahkannya, begitu juga Allah menjadikan malam sebagai waktu untuk merebahkan badan untuk istirahat setelah beraktifitas seharian.

 

Keenam, Allah memperlihatkan kepada kita tentang adanya petir sebagai ujian keimanan kepada kita untuk dihindarkan dari rasa ketakutan, serta berharap agar diselamatkan dari mara bahaya musibah banyak tumbangnya pohon besar yang memakan banyak korban akhir akhir ini.

 

Ketujuh,  diantara tanda keaggunganNya adalah menciptakan angin dengan berbagai tujuan sebagai kabar gembira kepada makhluknya dengan adanya hujan dimasa paceklik, begitu juga adanya angin sebagai perubahan suhu maupun cuaca membawa dampak positif khususya para nelayan ketika mengarungi lautan, maupun negatif misalnya banyaknya gedung, maupun bangunan yang roboh meresahkan masyarakat.

Dari penjelasan diatas Allah memperlihatkan tanda kebesaran serta keagunganNya untuk berbagai tujuan yang diungkapkan pada setiap akhir ayat diatas:

 

  1. untuk mengingatkan manusia untuk selalu menggunakan nikmat besar yang berupa anugerah akal fikiran, karena kecerdasan akal fikiran kalau tidak diasah tiap saat akan menjadi tumpul, serta lambat dalam merespon sesuatu.
  2. Allah menganjurkan manusia agar menjadi orang yang berilmu, supaya amal perbuatanya didasari cahaya ilmu sebagai penerang kehidupan.
  3. sejatinya manusia pelupa akan dirinya, Allah mengingatkan untuk selalu banyak mendengar daripada banyak bicara yang tidak ada manfaatnya, dalam anggota badan manusia  diciptakan telinga menjadi 2 bagian, sebagai pelajaran baginya.
  4. Hidup di dunia sebagai ujian,  Allah telah memberikan segalanya untuk manusia,  apakah mau bersyukur atau kufur? ketika mau bersyukur maka nikmatnya tidak akan kabur, sebaliknya bila kufur maka ia akan tersungkur.
Bagikan

Tinggalkan Balasan