Ini Alasan Dianjurkan Memperbanyak Shalawat pada Hari Jum’at

Hari Jum’at merupakan hari yang istimewa bagi umat Islam terutama sebagai hari raya mingguan. Di dalamnya ada beberapa keistimewaan, diantaranya ada kewajiban shalat Jum’at juga ada waktu khusus doa akan dikabulkan oleh Allah.

Pada hari Jum’at, umat Islam dianjurkan memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sebetulnya tujuan shalawat untuk apa sih?

Baca juga: http://masholeh.com/mengenal-syeh-as-syadzili-dan-shalawat-nurudz-dzati/

Dalam sebuah Hadits Nabi dijelaskan

وعن أوس بن أوس، رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة، فأكثروا علي من الصلاة فيه، فإن صلاتكم معروضة علي”فقالوا: يا رسول الله، وكيف تعرض صلاتنا عليك وقد أرمت؟، يقول: بليت، قال:”إن الله حرم على الأرض أجساد الأنبياء”. رواه أبو داود بإسناد صحيح.

Artinya: Diriwayatkan dari Aus bin Aus RA: Rasulullah SAW bersabda:”Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jum’at maka perbanyak membaca shalawat kepadaku karena shalawat akan diperlihatkan kepadaku. Kemudian para sahabat bertanya:”wahai Rasulullah, Bagaimana shalawat kami kepada engkau bisa diperlihatkan, padahal engkau sudah wafat. Nabi menjawab: betul saya sudah wafat. Lantas ia melanjutkan sabdanya:”Sesungguhnya Allah memuliakan jasad para Nabi di bumi ini. (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih).

Baca juga: http://masholeh.com/kejadian-kejadian-yang-terjadi-pada-hari-jumat/

Menurut Syeh Muhammad bin Akan dalam kitab Dalil Al-Falihin menjelaskan bahwa para Nabi masih hidup di kuburan mereka.

Dari penjelasan ini, ada beberapa poin yang dapat disimpulkan.

Baca juga: http://masholeh.com/memperbanyak-membaca-shalawat-akan-mempermudah-terkabulnya-hajat/

Pertama, Orang yang memperbanyak shalawat akan mendapatkan keistimewaan terutama pada hari Jum’at.

Kedua, Shalawat kepada Nabi merupakan bentuk komunikasi batin antara Nabi dan umatnya bahkan doa tak akan dikabulkan bila tak dibacakan shalawat terlebih dahulu.

Ketiga, Para Nabi walau sudah meninggal tapi hakikatnya masih hidup di kuburan masing-masing bahkan saat Isra’ dan Mi’raj, Nabi mendapatkan perintah shalat lima puluh waktu, namun atas saran Nabi Musa yang sudah meninggal ribuan tahun lamanya kepada Nabi Muhammad shalat menjadi lima waktu saja.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *