Intelejen Tertipu oleh Kurirnya

Pada zaman dahulu, ada sebuah kerajaan yang besar dan megah. Atas jasa seorang panglima perangnya yang cukup cerdik dan ditakuti musuh musuhnya.

Alasannya, ia selalu belajar dari pengalaman kerajaan lain, serta akuratnya data para intelejennya, sehingga ketika ada serangan dari luar selalu mudah dihalau, dan dikalahkan.

Suatu hari sang jenderal menugaskan salah satu intelejennya yang bernama Thuqhiyo untuk mencari data lawan yang hendak menyerang kerajaan itu. Ia menyamar sebagai turis yang sedang berwisata ke daerah itu.

Setelah sampai disana ia mulai mengamati pergerakan militernya, kekuatan persenjataan, serta strategi penyerangannya.

Kemudian setelah data terkumpul ia menitipkan kepada kurir khusus untuk segera dibawa kepada panglima perangnya.

Intelejen:”kamu antar data ini panglima,” tuturnya dengan nada berbisik.

Kurir:” siap, laksanakan,”sahut dengan pelan.

intelejen:”ini upah yang kamu terima, sebagian nanti ketika sudah sampai data ini,”jelasnya dengan nada meyakinkan.

Kurir:”terima kasih,” tuturnya.

Tanpa disadari ternyata kurirnya ini sudah dibayar mahal oleh kerajaan yang mau diserang agar merubah informasi yang akan diberikan kepada panglima perang kerajaan itu.

Akhirnya kerajaan itu menyusun strategi menyerang sesuai data yang telah diganti sang kurir. Lalu kerajaan itu kalah disebabkan intelejenya sembrono percaya kepada sang kurir.

Dari sini penyelesalan tidak ada gunanya lagi. Akhirnya intelejen siap menerima resikonya.

Faktor utama yang menjadikan orang mukmin sampai tertipu berasal dari bisikan syaitan yang mengajarkan kepada manusia, bahwa barangsiapa yang mencintai seseorang, maka ia juga akan menyayangi anak-anaknya. Begitu juga Allah akan mencintai seseorang dan anak-anaknya. Bisikan seperti inilah yang menjadikan seseorang tak mau menjalankan ketaatan karena sudah merasa diwakili oleh orangtuanya. Peristiwa ini seperti kisah yang dialami oleh putera Nabi Nuh yang bernama Kan’an. Ia merasa sebagai anak seorang Nabi yang mempunyai kedekatan dengan Allah.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *