Tiada satu pun manusia yang terlahir ke Dunia ini dalam keadaan berilmu. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak mampu merespon permasalahan dirinya maupun orang lain kecuali dengan adanya proses belajar yang terus menerus, karena pada hakikatnya ilmu bisa didapatkan dengan cara belajar, bukan melalui wirid atau tiduran.

Islam Melarang Umatnya Berfatwa tanpa Ilmu

Ilmu merupakan penerang bagi kehidupan manusia sehingga ia mampu membedakan kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kebatilan, pahala dan dosa, pujian maupun hinaan. Tanpa ilmu manusia akan salah serta tak mampu memilih dan memilah sehingga hidupnya tak terarah.

Dalam hidup bermasyarakat seringkali terlontar pertanyaan seputar urusan agama  namun susah dipecahkan atau dijawab oleh para Kyai, Ustadz, atau Ulama’. Untuk menghadapi permasalahan ini seseorang dituntut untuk tidak tergesa-gesa dalam menjawabnya tetapi diteliti secara mendalam referensi atau rujukannya sehingga tak fatal akibatnya karena banyak permasalahan menjadi ruwet cuma gara-gara jawaban yang sembrono atau demi mengejar identitas maupun popularitas yang tak terbatas.

Ada banyak keterangan  tentang prilaku atau sikap ulama’ terdahulu saat ditanya tentang berbagai hal, jika mereka merasa tidak mengetahui maka mereka menjawab dengan jujur bahwa dirinya tak tahu. Hal ini sesuai keterangan dalam Fatawa Dar Al-Ifta’ al-Misriyyah

وكان ابن عمر يسأل عن عشر مسائل فيجيب عن واحدة ويسكت في تسع ، والإمام مالك سئل عن ثمان وأربعين مسألة فقال فى اثنتين وثلاثين منها : لا أدرى .

Ibnu Umar ditanya sepuluh hal tapi ia hanya menjawab satu saja serta tak berkomentar terhadap sembilan masalah yang lain. Begitu juga Imam Malik ditanya tentang 48 pertanyaan. Dalam menjawab 32 pertanyaan ia berkata: “saya tak tahu,”

Bahkan dalam Mu’jam Al-Kabir karya imam Thabrani ada penjelasan yang sangat bijak saat menghadapi masalah yang belum diketahui jawabannya.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ: إِنَّمَا الْأُمُورُ ثَلَاثَةٌ: أَمْرٌ يَتَبَيَّنُ لَكَ رُشْدُهُ فَاتَّبِعْهُ، وَأَمْرٌ يَتَبَيَّنُ لَكَ غَيُّهُ فَاجْتَنِبْهُ، وَأَمْرٌ اخْتُلِفَ فِيهِ فَرُدَّهُ إِلَى عَالِمِهِ “رَوَاهُ الطَبْرَانِيُّ

Artinya: Diriwayatkan dari ibnu Abbas, dari Nabi Muhammad Saw: “Bahwasanya Nabi Isa bin Maryam AS berkata: “sesungguhnya permasalahan dikategorikan menjadi tiga. Pertama, sesuatu yang telah jelas petunjuknya maka ikutilah. Kedua, sesuatu yang terlihat jelas kesesatannya maka jauhilah. Ketiga, sesuatu yang masih diperselisihkan maka tanyakan kepada orang yang mengetahuinya (ulama’). (HR. Thabrani).

Dari penjelasan ini, manusia ketika mencapai derajat yang tinggi dalam bidang keilmuan, namun banyak hal yang belum ia ketahui maka ia harus selalu belajar atau bertanya kepada yang lebih tinggi ilmunya daripada dirinya. Pada dasarnya hal yang sangat dikhawatirkan adalah ketika seseorang memberikan fatwa tanpa didasari ilmu maka ia telah berdusta kepada Allah dan rasulnya serta menyesatkan dirinya sendiri dan orang lain yang mengikuti fatwa tersebut.

Maka dari itu, seseorang harus selalu belajar agar tak ketinggalan serta selalu membuka diri dengan orang lain agar ia menjadi tahu kekurangan yang ada dalam dirinya serta selalu berinovasi agar selalu menjadi yang terdepan dalam segala bidang.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *