Jangan Kau Rebut Masjid Kami

Goresan tinta hitam yang dulu dianggap sepele, sekarang sangat menentukan eksistensi seseorang, organisasi maupun legalitas sebuah bangunan. Disebuah desa kecil ada sebuah Masjid sederhana yang kini dipugar menjadi sebuah toko klontong. Hal ini berawal dari salah satu ahli waris menggugat ke Pengadilan, bahwa tanah yang dijadikan Masjid merupakan bukan tanah wakaf, karena tidak ada surat yang menjelaskan tentang status wakafnya.

“Aduh… ahli waris Haji Paijan memang keterlaluan, tanah Masjid yang sudah diwaqafkan oleh orang tuanya, kini digugat kembali,” keluh kesah Pak RT terhadap warganya.

“Iya Pak RT, sungguh keterlaluan mereka, Cuma tidak ada hitam diatas putih saja, waqaf orang tuanya di gugat, padahal dulu saya menjadi saksi pewakafan tanah itu, dan beliau masih dalam keadaan sehat. Emang saat itu belum dikenal tradisi tulis menulis sebuah perjanjian atau nota kesepakatan sebuah akad. Sehingga sekedar ucapan dan ada saksinya saja,” tutur salah satu warga RT.

baca juga: Santri Kepepet (vol.5) Saat cinta ditolak, Wiridan tambah banyak

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *