Kedepankan Sisi Kemanusian, dalam Menghadapi Bencana

 

Salah satu Karakter manusia adalah selalu ingin dekat dengan orang-orang yang terhormat, tercukupi secara materi, yang akan membantu dirinya dikala susah. Padahal Sahabat yang baik adalah selalu ada dalam kondisi apapun, tak memandang ia sedang paceklik maupun bergelimang dengan harta.

Abu Hatim dalam kitab Raudhatul Uqala memberikan tips untuk menguji karakter seseorang sahabat yang baik prilakunya atau tidak, yaitu tatkala ia sedang dilanda kekurangan, sahabatnya mau membantu atau lari menjauh darinya, alasannya adalah seorang sahabat akan lebih mengenal dirinya, terutama tatkala sedang susah, seharusnya ia membantunya. Padahal dalam sebuah Hadis yang diriwayat oleh Imam Muslim yang berbunyi:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا، نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة ، ومن يسّر على معسر ، يسّر الله عليه في الدنيا والآخرة ، ومن ستر مؤمنا ستره الله في الدنيا والآخرة ، والله في عون العبد ما كان

العبد في عون أخيه. رواه مسلم.

Artinya: diriwayatkan dari Abi Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: barangsiapa menghilangkan kesusahan orang mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesusahannya di akhirat, barangsiapa memudahkan orang yang sedang kesusahan, maka Allah akan meringankan urusannya dunia dan Akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang mukmin maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan Akhirat. Dan Allah akan selalu menolong hambanya, selagi hamba itu mau membantu saudaranya.(H.R Muslim).

Dari penjelasan Hadis diatas, menjadi jelas bahwa Allah akan memberikan pertolongan kepada hambanya, bila ia mau membantu, menghilangkan kesusahan saudaranya. Hal ini merupakan ajaran yang sangat mulia agar manusia mempunyai jiwa sosial yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya, baik tetangga, kerabat, maupun sesama muslim. Dari sini perbedaan pilihan, partai, kelompok, tak boleh menjadi penghalang untuk bebuat baik terhadap sesama, terutama saudara-saudara kita yang sedang terkena bencana alam, baik gempa bumi, banjir, atau musibah yang lain.

Pada hakikatnya menolong orang harus didasari jiwa yang ikhlas, tak boleh ada embel-embel kepentingan apapun, sehingga ia membantu siapapun tanpa ada sekat apapun, tak terkotak-kotak dari golongannya atau tidak, tapi lebih mengedepankan sisi kemanusian yang memang membutuhkan bantuan.

 

 

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan