Kisah Umar bin Khattab Menegur Seorang Badui yang Salah Baca Al Qur'an

Kedudukan Hadits dan Fungsinya terhadap Al-Qur’an

Salah satu sumber pengambilan hukum Islam adalah Hadis Nabi Muhammad yang terbagi kedalam tiga kategori yaitu berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan (Taqrir) darinya saat para sahabat bertanya tentang sebuah permasalahan.

Kedudukan hadist sebagai penjelas terhadap wahyu Tuhan yaitu kitab suci Al Qur’an. Menurut Imam At-Thabari dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa al-Qur’an merupakan kitab yang diberkahi diberikan kepada Nabi Muhammad supaya direnungi dan dipahami isinya sebagai Hujjah dan penjelas akan ajaran Syariat Islam.

Nabi Muhammad ibarat qur’an berjalan sehingga memudahkan para sahabat dalam memahami isinya.

عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآن

Artinya:

diriwayatkan dari Sa’ad bin Hisyam berkata: aku bertanya kepada siti Aisyah tentang akhlak Nabi, lantas ia menjelaskan bahwa akhlak Nabi yaitu Al Qur’an. (H.R Bukhari dalam kitab Khalqu Af’al Ibad).

Dari sini dapat dipahami bahwa kedudukan hadits dan fungsinya sebagai penjelasan terhadap isi Al-Qur’an.

Kedudukan Hadits dan Fungsinya terhadap Al-Qur’an

3 Fungsi kedudukan hadist terhadap Al Qur’an:

Syeh Muhammad Al Hafnawi dalam kitab Dirasat Ushuliyah fi Al Qur’an Al Karim menjelaskan bahwa ada 3 fungsi kedudukan hadist terhadap Al Qur’an:

Pertama. Hadist sebagai penguat terhadap hukum-hukum dalam Al Qur’an seperti yang menjelaskan tentang kewajiban shalat,  puasa, zakat, haji.

Misalnya hadist yang berbunyi:

ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﺑﻨﻰ اﻹﺳﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺧﻤﺲ: ﺷﻬﺎﺩﺓ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ، ﻭﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪا ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﻭﺇﻗﺎﻡ اﻟﺼﻼﺓ، ﻭﺇﻳﺘﺎء اﻟﺰﻛﺎﺓ، ﻭﺻﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﺣﺞ اﻟﺒﻴﺖ ﻣﻦ اﺳﺘﻄﺎﻉ ﺇﻟﻴﻪ ﺳﺒﻴﻼ .رواه البخاري ومسلم

Rasulullah bersabda: Islam dibangun atas lima hal. Syahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Nabi Muhammad sebagai utusannya, menegakkan Shalat, memberikan zakat, puasa ramadhan, haji ke Baitullah bagi yang telah mampu melaksanakannya. (HR. Bukhari Muslim)

Kedua, Hadist sebagai penjelas terhadap hukum-hukum yang ada dalam Al Qur’an,  baik untuk menjelaskan ayat yang masih global,  atau untuk memberikan penjelasan secara terperinci.

Misalnya ayat yang berbunyi

 
وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ 

Artinya:

Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. (QS. An Nisa’: 24)

Ayat ini dengan keumumannya menjelaskan tentang diperbolehkannya menikahi perempuan yang bukan muhrimnya. Namun ada hadist yang menjelaskan larangan mempoligami seorang perempuan   dan bibinya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ عَلَى عَمَّتِهَا وَلاَ عَلَى خَالَتِهَا

Artinya:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi saw., beliau bersabda: “Jangnlah seorang perempuan dimadu dengan bibinya (dari pihak bapak) dan bibinya (dari pihak ibu).

Ketiga. Hadist menetapkan hukum yang tak ada penjelasannya di dalam Al Qur’an seperti larangan shalat dan puasa bagi perempuan yang sedang haid.

Dalam Al Qur’an

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (222

Artinya:

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al Baqarah: 222).

Dalam ayat tersebut tak dijelaskan tentang hukum shalat dan berpuasa bagi perempuan yang sedang haid tapi ada hadist yang menjelaskan tentang larangan bagi perempuan yang haid melakukan shalat dan berpuasa.

Ini bunyi hadistnya:

ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ اﻟﺨﺪﺭﻱ – ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ﻗﺎﻝ: «ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺃﻟﻴﺲ ﺇﺫا ﺣﺎﺿﺖ اﻟﻤﺮﺃﺓ ﻟﻢ ﺗﺼﻞ ﻭﻟﻢ ﺗﺼﻢ» ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ

Artinya:

Diriwayatkan dari Abi Sa’id Al Khudri radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam bersabda: tidakkah seorang perempuan yang sedang haid dilarang melakukan shalat dan berpuasa. (Muttafaq Alaihi).

Menurut Imam As Syaukani dalam kitab Irsadul Fukhul menjelaskan bahwa hadist Nabi Muhammad juga sebagai dalil untuk pensyariatan sebuah hukum seperti halnya kitab suci Al-Quran.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)