GHIBAH, kenyang

Kejujuran Memang Mahal Harganya, Ini Hikmahnya

Di tahun politik seperti ini, manusia kadang menjual idealismenya demi sebuah tujuan yang akan dikejarnya. Sayangnya mereka banyak yang menggunakan cara yang dilarang seperti menyebarkan berita kebohongan atau hoak demi mencari reputasi maupun mengejar ambisi keiinginannya. Dari sini kejujuran dipertaruhkan.

baca juga:

Kejujuran mudah didengungkan, namun susah diaplikasikan dalam dunia nyata. Dalam hal ini, Abu Abdurrahman As-Sulami dalam Tabaqat as-Sufiyah mengutip perkataan seorang ulama’ yang bernama Fudhail bin Iyadh:

لم يَتَزَيَّنِ الناسُ بشىء، أفضلَ من الصدق، وطَلَب الحلال

Tak ada hiasan yang pantas bagi manusia yang melebihi dari kejujuran, serta mencari hal yang halal.

baca juga:

Salah satu tanda kejujuran yang ada pada diri seseorang adalah selalu konsisten dalam beramal, baik dikala sendirian atau ditengah keramaian. Karena kebiasaan manusia bila berhadapan dengan orang lain, ia akan menjaga harga dirinya, ia berusaha menutupi kekurangan agar tak terlihat dihadapan mereka. Sebaliknya bila sendirian, ia menghilangkan idealisme yang ada pada dalam dirinya, bahkan kadang tak mau berbuat sesuatu karena ia menganggap tak ada yang melihat dirinya.

Untuk mewujudkan budaya jujur memang harus dimulai dari setiap individu sebelum mengajarkan kepada orang lain. Memang betul kejujuran tak perlu memakai modal, dan harganya menjadi mahal karena kelangkaannya.

Menurut imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah menjelaskan bahwa untuk mendapat teman yang baik harus memperhatikan lima hal ini:

Pertama, Berakal. Ini sebagai modal pertemanan agar menjadi baik karena dengan akal akan selalu memberikan daya kritis terhadap diri kita bila melakukan kesalahan berpikir maupun perbuatan.

Kedua, mempunyai watak yang baik atau memiliki akhlak mulia. Beruntung bila mempunyai teman yang baik karena akan selalu memotivasi diri kita agar menjadi orang yang baik juga.

Ketiga, orang yang selalu berbuat kebaikan. Ia selalu menjauhi dari hal-hal yang terlarang atau kemaksiatan ataupun membuat keonaran dimasyarakat.

Keempat, tak gila atau ambisi berlebihan akan urusan dunia. Banyak orang yang hendak berteman dengan kita disaat sedang kaya materi, namun mereka akan lari bila kita sudah miskin, atau sudah tak memiliki kekayaan.

Kelima, orang yang jujur bukan orang yang curang. Memiliki teman yang jujur sangatlah sulit saat ini, karena setiap orang selalu menyembunyikan kejelekan maupun kekurangan dalam dirinya sehingga untuk melakukan kejujuran sangatlah berat, tapi harus selalu dicoba terus menerus.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *