Hikmah

Kenapa Berlebihan-lebihan Dilarang Agama? terutama dalam 3 Hal ini

tertipu, emosi

Islam datang sebagai agama yang memudahkan umatnya bukan untuk memberatkan apalagi menyusahkan sehingga banyak orang yang bersimpati terhadap ajarannya. Hal ini termasuk keistimewaan ajaran Islam yang perlu dilestarikan.

Agama melarang keras sikap ekstrim atau berlebihan-lebihan dalam bersikap, bertutur kata, berbusana, maupun dalam mengajarkan ajaran agama. Bahkan Nabi Muhammad mengingatkan dalam sebuah hadist yang dinukil oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ . قَالَهَا ثَلَاثًا ) رواه مسلم 

Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Orang yang berlebihan-lebihan akan hancur, Rasulullah mengulangi sampai tiga kali. (HR. Muslim).

Imam Ragib Al Asfihani dalam Muhadirat Al Udaba’ menjelaskan bahwa tentang bahaya berlebihan terutama dalam tiga hal ini. Ini bunyinya

ثلاثة تضر بأربابها الإفراط في الأكل اتكالاً على الصحة، والتفريط في العمل اتكالاً على القدر، وتكلف ما لا يطاق اتكالاً على القوة

Ada tiga hal ini membahayakan bagi pelakunya. Pertama. Berlebihan sampai melebihi batas dalam makan dengan dalih untuk kesehatan. Kedua. Berlebihan dalam beramal dengan patokan dirinya mampu melakukannya. Ketiga. membebani diri hal yang ia tak mampu mengerjakannya dengan dalih dirinya mampu.

Baca juga:

Syeh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashoihul Ibad mengutip perkataan Imam Ibrahim An Nakhai:


إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ هَلَكَ قَبْلَكُمْ بِثَلَاثِ خِصَالٍ : بِفُضُوْلِ الْكَلَامِ وَفُضُوْلِ الطَّعَامِ وَ فُضُوْلِ الْمَنَامِ

Sesungguhnya hancurnya umat terdahulu sebelum kalian dikarenakan tiga hal: pertama, banyak bicara hal yang tak berguna. Kedua, mengkonsumsi makanan secara berlebihan. Ketiga, Terlalu banyak tidur.

Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa Islam mengatur hidup umatnya secara teliti terutama urusan makanan yang ia konsumsi sehari-hari untuk tidak berlebih-lebihan walaupun termasuk kategori halal karena sumber berbagai macam penyakit diakibatkan dari masalah perut.

Begitu pula dalam mengamalkan ajaran agama untuk tidak fanatik buta karena akan mengakibatkan persoalan yang menyangkut dirinya akan kurang tertata begitu pula yang berkaitan dengan orang lain akan terlunta-lunta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *