Salah satu rukun iman adalah beriman kepada para rasul yang bertugas untuk menyampaikan risalah kepada umat manusia. Hal ini bertujuan agar ajaran-ajaran agama mampu membawa keadilan dan perdamaian bagi umat manusia.

Ada beberapa kriteria perihal kehidupan serta kemulian para Nabi dan Rasul yang perlu dicermati dan diikuti oleh manusia sehingga menjadi panduan mudah untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Imam Ar-Razi dalam Tafsirnya yang berjudul Mafatih al-Ghaib mengkisahkan bahwa saat Nabi Musa hendak munajat kepada Tuhannya, ia melihat seseorang yang diberikan kedudukan tinggi dihadapan Allah yang selalu diinginkan dan diidam-idamkan oleh setiap orang.

Nabi Musa berkata: “Sungguh mulia orang ini sangat dekat dengan Tuhannya,”

Melihat kejadian ini, lantas Nabi Musa bertanya kepada Tuhannya supaya dapat informasi perihal nama orang tersebut tetapi tak diberitahu namanya.

Kemudian Allah menjelaskan 3 amal perbuatan yang dilakukannya sehingga mendapatkan kedudukan terhormat dan nikmat.

Pertama. Ia tak pernah dengki terhadap anugerah atau pemberian Allah kepada orang lain. Ia memahami bahwa setiap makhluk ciptaan-Nya pasti memiliki rizki masing-masing jadi tak perlu dengki terhadap kelebihan orang lain dalam urusan duniawi.

Kedua. Tak pernah menyakiti hati orang tuanya. Salah satu tanda bakti seorang anak kepada orangtuanya adalah selalu mendoakan keduanya serta bergaul dengan sikap yang baik walau kadang ada yang berbeda keyakinan.

Ketiga. Tak pernah mengadu domba atau memprovokasi orang lain. Pada dasarnya seorang provokator tak senang bila ada kedamaian disekitarnya. Hal ini ia lakukan lantaran memanfaatkan situasi agar dirinya mendapatkan keuntungan yang banyak bagi dirinya.

Kisah Nabi Musa Bertanya Perihal Orang yang Mendapatkan Kedudukan Mulia di Hadapan Allah
Tag pada:    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *