Kitab Waraqat bag. 6 tentang Larangan (Nahi)

Pada dasarnya, Allah memberikan keleluasaan kepada manusia untuk berbuat apapun di muka bumi ini namun Dia juga mengingatkan akan larangan yang memiliki resiko tersendiri sebagai ujian kepada manusia supaya baik amal perbuatannya.

Pada dasarnya, Allah memberikan keleluasaan kepada manusia untuk berbuat apapun di muka bumi ini namun Dia juga mengingatkan akan larangan yang memiliki resiko tersendiri sebagai ujian kepada manusia supaya baik amal perbuatannya.

Setiap ada perintah untuk melakukan seseorang biasanya sedikit orang yang  mau melakukannya, misalnya perintah untuk shalat lima waktu. Bila diteliti secara seksama ternyata orang yang tak shalat prosentasenya justru lebih banyak dibandingkan orang yang mau sholat.

Hal ini diperkuat oleh Al Qur’an yang berbunyi:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Artinya:

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.(QS. Al Baqarah: 45).

Imam At Thabari menjelaskan bahwa untuk melaksanakan perintah Shalat
ternyata sangat berat sekali kecuali bagi orang tunduk dan taat kepada perintah-Nya serta takut akan siksaan-Nya.

Sebaliknya, setiap ada larangan biasanya banyak yang melakukannya seperti diawal-awal Islam, Al Qur’an melarang mengkonsumsi minuman keras secara bertahap dikarenakan banyak orang yang mabuk-mabukan sehingga meresahkan orang lain.

Sebetulnya apa sih hakikatnya Larangan (Nahi) dalam Islam?

Imam Al Juwaini atau dikenal dengan imam Al Haramain  dalam kitab Al Waraqat memberikan definisi tentang Nahi atau larangan yaitu:

ﻭاﻟﻨﻬﻲ اﺳﺘﺪﻋﺎء اﻟﺘﺮﻙ ﺑﺎﻟﻘﻮﻝ ﻣﻤﻦ ﻫﻮ ﺩﻭﻧﻪ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻮﺟﻮﺏ ﻭﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﻓﺴﺎﺩ اﻟﻤﻨﻬﻲ ﻋﻨﻪ

Larangan (Nahi) adalah perintah untuk tidak melakukan sesuatu baik melalui lisan kepada orang yang lebih derajatnya serta bersifat wajib dikarenakan ada sesuatu yang terlarang di dalamnya.

tertipu, emosi
Kitab Waraqat bag. 6 tentang Larangan (Nahi)

Imam Jalaluddin Al Mahalli dalam Syarah Al Waraqat menjelaskan lebih detail bahwa setiap ada larangan pasti menyimpan hikmah tersendiri seperti larangan bagi orang yang sedang haid melakukan shalat dikarenakan ada sesuatu penghalang sahnya shalat yaitu haid.

Larangan Allah (Nahi) tak semuanya bersifat haram yang berdampak dosa bagi pelakunya namun ada yang makruh (sebaiknya ditinggalkan tak usah dilakukan) seperti mengkonsumsi makanan-makanan yang menimbulkan bau tak sedap seperti bawang dan lainnya.

Jadi, setiap ada larangan untuk mengerjakan sesuatu di dalamnya ada hikmah yang perlu digali dan diteliti sehingga manusia mampu menyadari bahwa segala larangan maupun perintah Allah akan ada manfaat yang dirasakan, diterima oleh manusia.