Kriteria Istri Shalihah Idaman Para Suami

Kenikmatan dunia tidak hanya dilihat dari segi materi semata dengan banyaknya harta, rumah megah ditengah kota, mobil yang harganya diatas rata-rata, memiliki usaha  permata yang selalu menyilaukan mata, ternyata hal itu kurang terasa bermakna.

Baca juga: http://masholeh.com/kode-etik-suami-istri-dalam-bermedsos/

Puncak kenikmatan di dunia yaitu bila seseorang memiliki istri shalihah yang selalu mendukung usaha demi keberhasilan suaminya. Sebetulnya kriteria istri shalihah itu seperti apa sih?

Al-Qur’an menjelaskan tentang konsep istri shalihah seperti pada ayat yang berbunyi


فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ 


Artinya: “maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.” (QS. An-Nisa: 34).

Menurut imam ar-Razi dalam tafsirnya Mafatih al-Ghaib, ayat ini menjelaskan tentang konsep istri shalihah memiliki dua kriteria.

Baca juga: http://masholeh.com/kriteria-istri-yang-dirindukan-surga/

a. Taat kepada suaminya.

Tugas pokok seorang istri adalah taat kepada suaminya selagi perintahnya tidak bertentangan dengan ajaran agama. Kewajiban yang berkaitan dengan Allah harus ditunaikan terlebih dahulu seperti shalat lima waktu, puasa Ramadhan. Bahkan seorang istri dilarang berpuasa sunnah bila suaminya tak mengizinkan. Hal ini sesuai hadits Nabi Muhammad SAW,

 عن أبي هُريرةَ رَضِيَ اللهُ عنه، أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال لا يحِلُّ للمَرأةِ أن تصومَ وزَوجُها شاهِدٌ إلَّا بإذنِه ولا تأذَنَ في بيتِه إلَّا بإذنِه. متفق عليه

Artinya: diriwayatkan dari Abi Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “tak diperbolehkan seorang istri berpuasa sunnah sedangkan suaminya ada dirumah kecuali dengan izinnya juga tak memberi izin orang lain untuk masuk rumah kecuali atas izinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut syeh Husein al-Maghrabi dalam kitab al-Bdru at-Tamam syarah Bulugul Maram menjelaskan bahwa maksud hadist diatas adalah kewajiban istri kepada seorang suami harus didahulukan daripada ibadah puasa sunnah maupun ibadah sunnah lainnya. Hal ini bertujuan agar suami mendapatkan pelayanan ekstra dari istrinya sehingga tercipta keharmonisan antar keduanya.

Baca juga: http://masholeh.com/alasan-umar-bin-khattab-memilih-diam-ketika-dimarahi-istri/

b. Menjaga diri saat suami tak di rumah

Seorang istri berkewajiban melaksanakan tugas yang diberikan suaminya baik dikala sedang bersamanya atau sedang bertugas diluar rumah terutama dalam menjaga segala rahasia, kekurangan pasangannya terutama tak menyebarkan lewat media sosial. Begitu juga ia harus mampu menjaga diri dari beberapa hal. Pertama,menjaga diri dari hubungan terlarang dengan orang lain atau perzinahan.Kedua, menjaga harta benda suaminya dengan tak menghamburkannya tetapi menggunakan dengan baik sesuai kebutuhan keluarga. Ketiga, menjaga rumah atau tempat tinggal dari tamu-tamu yang tak dikenal. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ خَيْرِ النِّسَاءِ قَالَ: «الَّتِي تُطِيعُ إِذَا أَمَرَ، وَتَسُرُّ إِذَا نَظَرَ، وَتَحْفَظُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ» رَوَاهُ النَّساَئيُّ

Diriwayatkan dari abu Hurairah berkata: “ Rasulullah ditanya tentang kriteria istri yang paling baik, kemudian Nabi menjawab: “yaitu istri yang taat ketika diperintah suaminya serta selalu menyenangkan hati saat suami memandangnya dan menjaga diri dan harta suaminya. (HR. Nasa’i).

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa istri shalihah selalu diidam-idamkan oleh setiap para suami dikarenakan prilakunya yang selalu menyejukkan pasangannya. Namun sayangnya untuk mendapatkan istri yang sesuai kriteria diatas sangat sulit. Berapa banyak istri yang mengerti persoalan hukum islam tetapi prilakunya selalu bertentangan dengan ajaran agamanya. Maka dari itu dibutuhkan kekompakan dan tanggungjawab bersama antara suami dan istri untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing sehingga menambah kenyamanan keluarga.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *