nasehat nabi

Larangan berbuat Zalim, Ini Kategorinya

Menurut Imam al-Jurjani dalam at-Ta’rifat menjelaskan definisi Zalim adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dari definisi ini, kita harus berupaya untuk selalu menjadi orang yang mampu menempatkan kewajiban sesuai tempatnya maupun memberikan hak kepada orang lain sesuai proporsinya.

Syeh Muhammad bin Abdul Karim dalam Mausu’ah al-Kisanzan mengutip pendapat Abu Abdurrahman As-Sulami pengarang Tabaqat As-Sufiyah yang berpendapat:

يقول الشيخ أبو عبد الرحمن السلمي :” الظلم على ثلاثة أوجه : ظلم مغفور ، وظلم محاسب ، وظلم غير مغفور .فالظلم المغفور : ظلم الرجل نفسه .والظلم المحاسب : ظلمه أخاه .والظلم الذي لا يغفر : هو الشرك”

Artinya: kezaliman terbagi menjadi tiga macam: kezaliman yang dimaafkan, kezaliman yang akan dihisab, kezaliman yang tak akan diampuni. Penjelasan kezaliman yang dimaafkan yaitu kezaliman seseorang kepada dirinya sendiri. Sedangkan kezaliman yang akan dihisab adalah mendzalimi saudaranya. Dan kezaliman yang tak akan diampuni adalah melakukan syirik atau menyekutukan Allah.

 

Penjelasan Abu Abdurrahman As-Sulami dapat digambarkan bahwa kezaliman terbagi menjadi tiga macam, yaitu:

Pertama, Kezaliman yang dimaafkan ظلم مغفور) )  yaitu bila seseorang melakukan kezaliman kepada diri sendiri dengan melakukan kejahatan maupun kemaksiatan seperti meminum hal-hal yang memabukkan karena hal ini akan merugikan dirinya sendiri dan orang lain  khususnya remaja saat ini sangat menyimpang prilaku kehidupannya, sekolah ditinggalkan, tawuran sudah menjadi kebiasaan. Namun uniknya mereka selalu berangan-angan ketika tua ingin kaya raya, dikelilingi istri cantik jelita, dan berharap bisa masuk surga. Sungguh sangat memprihatinkan.

Kedua, Kezaliman yang akan dihisab (ظلم محاسب) yaitu bila seseorang mendzalimi orang lain, baik tetangga, maupun teman. Akhir-akhir ini banyak kejadian tetangga menyerobot tanah saudaranya, bahkan masjid atau musolla yang telah diwakafkan orang tuanya diambil alih dirinya sebagai hak waris. Semuanya akan menjadi catatan masyarakat dan diakhirat akan dihisab.

Ketiga, Kezaliman yang tak akan diampuni (وظلم غير مغفور) yaitu menyekutukan kepada Allah dengan meyakini bahwa Ia mempunyai anak, atau ada yang menyamainya. Prilaku ini sangat dilarang keras oleh Agama karena menyimpang dari kebenaran. Hal ini sesuai dengan potongan Ayat dalam Surat Luqman:13

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya: Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Syeh Tantowi dalam Tafsir Al-Wasit menjelaskan bahwa sesungguhnya kemusyrikan itu perbuatan yang sangat dzalim karena tidak menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya serta menyamakan urusan ibadah antara Sang Khalik dan Makhluknya.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa perbuatan zalim sangat dilarang keras oleh Agama karena sangat merugikan bagi dirinya dan orang lain.

 

 

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *